Mereka berteriak lantang sambil mengobarkan bendera ‘pluralisme’. Kesal dan jengkel dengan para teroris yang membuat onar dengan bom, sekaligus para provokator yang mencuatkn gejolak api permusuhan dan kericuhan antar agama. Islam, Kristen, Semit, Hindu atau Budha – kenapa sih ribut mempertentangkan agama yang ujung-ujungnya berakhir dengan kekisruhan yang justru membawa korban ? Apakah sudah bosan dengan kedamaian…?
Kemudian mereka mengusung kata ‘pluralisme’ – yang dianggap sebagai salah satu pemecahan masalah dan pencerahan atas problema diatas. Ketika ditanya, apa itu pluralisme, mereka akan mengatakan bahwa itu berhubungan dengan keberagaman (agama) dalam persatuan. Saling menghormati, toleransi.
Betulkah memang demikian…?
Saya telah banyak mengamati (sekaligus mengkaji), apa dan siapakah yang menonjolkan pluralisme dan siapa yang tidak. Kaum alim ulama yang berpengetahuan luas dengan pemahaman agama yang dalam justru tidak akan mengamini pluralisme. Kata ‘pluralisme’ justru banyak diangkat oleh golongan paham agama namun condong ke arah modernis imperialis, atau justru mereka yang masih jauh dari pemahaman dan kajian agama(nya) secara mendalam – alias kaum pragmatis dan sekular yang menyentuh agama sebagai sisi simbolitas saja. Mereka yang merasa terganggu akibat efek tak mengenakkan yang dirasakan oleh fisik/emosi.
Mengapa kaum alim ulama (yang sekaligus saya amini dengan kata ‘setuju 100 persen’) tidak mengamini istilah pluralisme ? Bahkan ada beberapa yang mengatakan haram.
Well… segala sesuatu yang berimbuhan –isme adalah berarti sebuah paham, kepercayaan, anutan, atau keyakinan. Jika demikian, dapat pula dikata bahwa pluralisme (yang benar) adalah mengatakan bahwa semua agama benar. Semua keyakinan benar (karena tujuannya memang satu, yakni Tuhan).
Padahal seharusnya (dan sewajarnya), seorang yang beragama, paham agamanya, pasti akan memiliki truth claim masing-masing -->
“Untuk kamu agamamu, dan bagiku agamaku” (Al Kafiruun; 6)
Apalagi dalam soal ritual dan peribadatan, tentu saja tidak bisa dicampur-aduk antara satu agama dengan agama lain. Saya yang seorang muslim tentu akan berkeyakinan bahwa peribadatan saya lah yang paling benar. Saya tidak akan banyak berkomentar dan terlibat (langsung/tak langsung) dengan natal, trinitas, trimurti, ahimsa, dan lain-lain – meski saya menghormati dan memberi kebebasan umat lain untuk beribadah atau melaksanakan aktivitas keagamaan mereka. Ada beberapa hal (terutama dalam hal peribadatan maupun keyakinan) dimana saya tak bisa membenarkan (karena saya mengimani agama saya), namun saya membiarkan.
Maka ‘membiarkan’ inilah yang dimaksud dengan toleransi atau menghormati, menurut versi saya. Jika berada diluar koridor peribadatan dan keyakinan, adalah kewajiban untuk saling tolong menolong dan kerja sama. Saya mengimani Al-quran, dimana telah tertera dengan jelas dan gamblang aturan-aturan mengenai hormat-menghormati maupun menghargai umat lain. Inilah yang disebut dengan Pluralitas – yang lebih condong pada aktivitas atau keadaan (saling menghormati dan tolong menolong).
Keberagaman sebagai suatu kenyataan harus disikapi dengan kesadaran dan kesepakatan dalam hal adanya perbedaan, bukan integrasi. Keberagaman yang menerima eksistensi kelompok lain namun tidak berarti membenarkan pemahaman yang berbeda dari pemahaman kita. Dalam bingkai kesadaran perbedaan yang tidak mungkin berintegrasi itu, mari kita hidup rukun dan damai terhadap pemeluk agama mana pun. Selama mereka berbuat baik kepada kita, kita balas dengan adil yaitu dengan kebaikan pula, ataupun kalau sanggup dengan ihsan, yaitu kita balas dengan lebih baik. Selama mereka tidak mengusik / merusak agama dan memerangi kita, selama itu pula kita pantas menjaga perdamaian dan kebersamaan.
Gus Dur sendiri mengusulkan keharusan pluralitas dalam melihat Islam dan kehidupan, dengan bersandar pada etika dan spiritualitas, termasuk untuk mengelola dunia yang terus bergerak ke arah globalisasi ini. Ini ditujukan untuk perdamaian abadi dan saling menghormati antar bangsa dan antar manusia. Artinya, pluralitas pun (se)harus(nya) berpedoman pada Al-quran, yang telah memuat segala aturan untuk manusia.
Al-Qur`an meletakkan prinsip-prinsip pergaulan manusia atau masyarakat muslim dengan non-muslim. Pribadi dan masyarakat Islam tidak boleh memaksakan penganut agama lain pindah ke agamanya (Al Baqarah:256). Dalam menyampaikan dakwah Islam, hendaklah dengan cara yang bijaksana, dengan pelajaran dan diskusi yang lebih baik (An Nahl:125). Pribadi muslim tidak dilarang untuk berbuat baik dan tolong menolong dengan penganut agama lain , yang tidak bersikap bermusuhan (Al Mumtahanah:8).
“Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu berkenal-kenalan, sesungguhnya yang termulia di antara kamu di sisi Allah, ialah yang lebih taqwa.” (Ar Rum: 22)
Nah, masih keukeuh dengan Pluralisme…? Padahal pluralitas jauh lebih elok…
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan rasa dalam hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya."
2 comments:
<<< mereka akan mengatakan bahwa itu berhubungan dengan keberagaman (agama) dalam persatuan. Saling menghormati, toleransi. >>>
Pluralisme [agama] tdk sesempit itu. Pluralisme tdk ada kaitan dengan dg kapitalisme atau barat sekalipun, Pluralisme maknanya keberagaman, kebhinekaan, penghargaan hak-hak individu sebagai manusia yg bebas bertanggung jawab. terutama hak untuk hidup.
Pluralisme bukan pemisahan agama dg negara [skuler] melainkan setiap orang berhak berekplorasi terhadap kehidupannya yg penuh dg pengalaman-pengalaman bathin. tak ada ketakutan terhadap dogma, tak ada ketakutan/intimidasi, atau apapun bentuk teror.
kreatifitas, kreasi dihargai tanpa pertimbangan hitam atau putih, benar atau salah. semuanya adalah proses belajar.
Sebelumnya, terima kasih banyak atas atensi dan apresiasi tulisan saya di blog…
Mengenai semangat menghargai, menghormati, serta saling melindungi terhadap umat manusia (bahkan yang berbeda agama sekalipun) tak pernah saya tolak. Bahkan perihal ini, berikut cara-cara praktisnya pun telah termaktub dalam buku pedoman (hidup) saya, yakni Al-quran – yang harus saya imani. Saya yakin Anda pun memiliki semangat mulia ini, yang semoga tetap lestari hingga akhir jaman. :)
Saya senang bahwa rupanya Anda pun sepaham dengan semangat tersebut.
Namun rasanya ada beberapa hal yang mungkin saya luruskan seperlunya. Jika Anda mengkritisi soal semangat, sedangkan saya menuliskan mengenai makna kata antara pluralisme dan pluralitas, maka sungguh, saya rasa kita tidak akan pernah bertemu di ujung tali yang sama sampai kapanpun. Sama halnya berdebat tentang hari valentine. Meski sarat dengan semangat ‘kasih sayang’ yang patut dipupuk dan dilestarikan, tetap saya tak akan turut merayakannya. :)
Semangat memang tak ada hubungannya dengan barat ataupun timur. Tak ada hubungan pula dengan sekuler maupun militan. Namun ide pluralisme sendiri memang bermula dari pengalaman-pengalaman barat, yang mungkin bermula dari cultural pluralism, kemudian berkembang ke ranah religious pluralism. Dan sebagaimana sebuah paham (-isme), pasti ada misi ideologi yang diemban. Paham pluralisme (agama) menyatakan bahwa kebenaran agama adalah relatif, sehingga bentuk dari truth-claim sebisa mungkin diperkecil (atau malah dihapuskan). Latar belakangnya, adanya anggapan bahwa terjadinya konflik kaum antar agama seringkali dipicu karena adanya truth claim tersebut. Inilah esensi dari pluralisme, yang merupakan cara yang lebih halus daripada asimilasi atau pembauran agama (demi menghindari konflik). Saya tidak bermaksud mempersempit pandangan, karena saya rasa hal-hal ini pun telah banyak diungkap dengan beragam teori dan pendapat.
Kaum pluralism sendiri kerap kali mencari-cari dalih penguatan dengan pemelintiran sejarah pengalaman (misalnya piagam madinah) atau pandangan ahli sufi Ibn Arabi mengenai agama-agama lain. Padahal telah jelas bahwa Islam mengajarkan SIKAP saling menghormati dan menghargai umat manusia satu dengan lainnya, namun TIDAK mengakui kebenaran ajaran/akidah agama lain.
Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam ( Al-Imran : 19)
Mengenai kapitalisme, memang tak ada hubungan dengan ‘semangat’ menghargai keberagaman (agama). Namun kapitalisme (yang berasal dari barat) mulai kerap menggunakan ‘agama’ sebagai alat menancapkan ideologi dan misi yang sesungguhnya merupakan kepentingan politik dan ideologi keuntungan. Misalnya, konflik antara Palestina dan Israel mulai bergeser pandangan ke arah konflik agama (Islam vs Yahudi). Jika memang keberbedaan agama itu rentan, seharusnya konflik itu terjadi sejak jaman lampau. Namun nyatanya dulu mereka pun pernah hidup saling bersandingan. Ketika muncul kepentingan ideologi politik dan kapitalisme barat (yang menungganginya), barulah timbul konflik tersebut.
Setiap manusia memang pasti melalui proses pembelajaran (hidup) -- baik itu melalui pengalaman, ilmu yang terserap, maupun inspirasi atau hidayah. Namun kami, orang muslim, mencintai sesamanya, saudara-saudara seiman kami, bak kami mencintai salah satu anggota tubuh kami yang lain. Andaikan kami tahu ada lubang di depan saudara kami, maka kami wajib mengingatkan dan membantu supaya mereka tak terjerumus terlalu dalam. Ibarat ibu, takkan berdiam diri saat anaknya sedang berhadapan dengan marabahaya – meski marabahaya tersebut toh nantinya akan menjadi pengalaman berharga yang menggiring pada pembelajaran. Jika memang tak dapat melarang, namun masih ada kesempatan untuk mengingatkan, bukan ? Ikhtiar, tawakal, dan pasrah pada ketentuan-Nya.
Semoga penjelasan saya cukup berkenan, dan mohon maaf jika ada keterselipan.
Terima kasih
Post a Comment