Monday, June 13, 2011

The Power of Mind…. Hebat namun kurang elok…


Pernahkah Engkau mendengar bahwa kekuatan pikiran dapat menggerakkan segalanya ? Bahwa dengan kekuatan pikiran, maka apa yang kau kehendaki benar-benar akan terjadi. Itulah dasar dari Power of The Mind – yang mungkin kini sedang marak menjadi semacam afirmasi atau motivasi diri. Pembahasan mengenai The Power of mind menjadi gencar-gencaran. Mulai dari buku, agitasi, hingga acara televisi. Benarkah ini semacam propaganda budaya baru ? Sebuah solusi, tips dan trik di era praktis ?


Yang jelas…. Saya sendiri memutuskan untuk tidak ikut-ikutan arus dan aliran ‘power of the mind’; jika itu memang disebut sebagai aliran, cara baru, atau apa saja lah. Mengapa demikian ? Bukankah sudah banyak terbukti kedahsyatan dan kemanjurannya – bahwa dengan kekuatan pikiran, dengan afirmasi dari pikiran dan keyakinan, maka apa yang kau impikan akan terwujud ? Tak hanya engkau, saudara dan rekan kolegamu sudah membuktikan kebenarannya. Bahkan ada ribuan atau jutaan manusia yang telah mengalami euforia ini. Well… saya tidak menyanggah atau menyangkal kemanjurannya. Seperti halnya saya tidak menyangkal bahwa seorang dukun pun dapat menyembuhkan derita santet dengan hanya memercikkan air penuh bebungaan diantara asap kemenyan yang membumbung. Mungkin memang sembuh (total). Tapi saya tidak sependapat dengan cara tersebut. Itulah yang akan saya bahas disini.

Bagi saya, the power of mind atau kekuatan pikiran hanyalah semacam propaganda mereka yang menganut paham materialisme. Mereka yang atheis, yang agnostik… Hey! Saya memiliki tandingan lain yang lebih elok, yang mungkin dapat dipertimbangkan untuk menjadi pengganti dari the power of the mind – yakni The Power of Praying. Kekuatan doa. Persetan dengan masalah rasionalitas dan logika, karena menurut saya, mereka yang materialis justru amat tidak rasional dan tidak logis.


Sangat tidak rasional, karena begitu yakin bahwa diri ini, manusia, memiliki kekuatan yang begitu hebat untuk menggerakkan semuanya. Untuk mewujudkan semua (yang diingininya). Well… bahkan engkau saja tidak memiliki kekuatan untuk mengetahui apa yang terjadi di belahan bumi lain (tanpa b

antuan teknologi artifisial). Engkau tidak memiliki kekuatan untuk membuat seorang di depanmu menandatangani kontrak persetujuan yang membuat Anda untung berat. Dan engkau tak memiliki kemampuan untuk membuat hidupmu terus menerus bahagia dan tertawa. Bisa-bisanya engkau menasbihkan diri bahwa pikiranmu(lah) yang memiliki kemampuan hebat untuk mewujudkan apa saja! Engkau hanya mengapung diantara berbagai kemungkinan. Kemungkinan ya dan tidak. Kemungkinan berhasil dan gagal. Mana yang engkau peroleh, itu adalah suatu kebetulan. Begitulah materialis. Padahal kehidupan tak hanya sekedar rangkaian kejadian yang acak, hingga tercipta kebetulan-kebetulan.

Ah, tidak. Jika engkau berkonsentrasi lebih dalam, meyakini lebih kuat, maka engkau dapat mengirimkan sinyal berupa spektrum, gelombang elektromagnetik, dan partikel-partikel kasat mata yang dapat mempengaruhi seseorang di depanmu supaya mengangguk atau menggeleng. Ha! Saya rasa Romi Rafael, Adi W Gunawan, dan lain sebagainya paling ahli dalam hal ini! Apakah engkau juga ingin menjadi seorang ahli hipnotis ? Bahkan ada pula yang membeberkan teknik-teknik praktis (namun ternyat

a malah ribet) disertai dengan simpulan-simpulan teori yang sebenarnya adalah sekedar angan-angan romantika belaka. Mulai dari konsentrasi pikiran, permainan bawah sadar (Aha! sigmund freud pasti bersuka cita!), hingga keterlibatan berbagai macam gelombang suara semisal alpha, teta, bheta atau gamma, yang biasa dikenal dengan binaural beats (kebetulan saya sendiri, karena penasaran sangat, pernah menyibukkan diri untuk mencoba urusan ini sampai telinga saya sakit semua, heee…) Muncul pula istilah-istilah romantis; semesta, kekuatan alam, hukum tarik menarik, dan sebagainya. Atau malah ujung-ujungnya melahirkan interpretasi mengenai tuhan ala Bernard Haisch akibat kementokan jangkauan pikir manusia. Metode-metode seperti ini dikembangkan dengan subur di negara-negara barat.

Keberhasilan itu sangat memungkinkan terjadi. Terwujud dengan sangat mengesankan. Apalagi dengan segenap upaya dan kerja kerasmu. Sembilan puluh persen usaha tak pernah sia-sia. Namun ketika berhasil, maka engkau akan mengatakan ‘yaa… semua ini berkat kemampuan pikiran saya, hingga pada akhirnya saya berhasil dan meraih impian. Saya tanamkan terus menerus afirmasi dalam pikiran saya, dalam bawah sadar saya, sehingga saya memiliki motivasi dan kemampuan lebih besar yang tak pernah saya duga sebelumnya. Ternyata saya memang mampu.’ Saya… saya… dan saya… Sampai berapa kali engkau mengatakan ‘saya’ ? Paham power of the mind menggiring kita pada kesombongan akan diri sendiri. Ibarat ketika engkau membeli sebuah blender otomatis super canggih yang mampu menyediakan segelas jus alpukat dalam sekejab, maka kau puji blender itu habis-habisan… Blender yang te

lah kau beli, yang telah menjadi milikmu seorang.

Sekarang bandingkan dengan The Power of Prayin

g. Sebagai manusia yang beragama, menurut saya akan jauh lebih elok jika kita lebih mem

ilih the power of praying. Tiada kekuatan selain kekuatan milik-Nya. Bukan karena hukum tarik-menarik, bukan pula kekuatan alam. Kalaupun mereka memiliki andil, sesungguhnya mereka hanya sekedar sarana. Dia, Yang Maha Segala-nya yang menentukan kesuksesan dan keberhasilanmu. Dan hanya Dia lah yang Maha Mendengar segala doamu. Bukankah sudah banyak pula bukti mengenai doa-doa yang terkabul ? Bahkan engkau sendiri pasti juga seringkali mengalaminya, bukan ? Hanya Tuhan yang menentukan jalan hidup kita. Hanya Tuhan yang memberi kita kesempatan untuk mereguk kesuksesan dan kegagalan. Hanya Tuhan yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita. Jangankan sekedar menggerakkan pikiranmu, bahkan membolak-balikkan hati – yang merupakan pemimpin dari seluruh anggota tubuh pun merupakan hal yang ringan bagi-Nya. Namun Dia tak pernah menciptakan segala sesuatunya dengan sia-sia. Semua memiliki maksud dan tujuan sendiri-sendiri. Hikmahnya sendiri. Dan semua itu adalah demi kebaikan dan kebahagiaanmu sendiri. Jadi percayalah, Tuhan pasti mengabulkan doa dan permohonanmu – jika engkau meminta.


Ah, doa dan kekuatan pikiran nggak jauh berbeda, bukan ? Doa pun adalah kekuatan pikiran. Hanya masalah etimologi. Apa yang terucap manusia adalah sebuah doa. Inilah pernyataan yang seringkali didengungkan. Begitu, bukan ?

Namun jika diperkenankan, saya akan mengatakan bahwa dua hal tersebut boleh jadi berbeda. Bahkan saya mulai cenderung lebih banyak melihat manifestasi, dimana kedua hal tersebut memang mulai berbeda. Doa memang adalah sebuah kekuatan pikiran. Namun kekuatan pikiran belum tentu berupa doa. Disini, saya mengartikan doa dari sudut pandang fokus atau tujuan dipantulkannya harapan. Doa selalu akan fokus dan tertuju pada Tuhan. Sedangkan kekuatan pikiran, bisa saja hanya sekedar berupa afirmasi diri sendiri. Sebuah sikap pengyakinan bahwa diri ini pun memiliki kekuatan untuk mewujudkan impian dan harapan. Dalam kekuatan pikiran ini, ada celah atau peluang untuk mengabaikan kekuatan lain yang mampu menggerakkan atau mewujudkan impian kita. Bahkan fokus ini adakalanya bias, saling tumpang tindih, meski tidak memungkinkan cara ini pun cukup manjur.


Namun jauh berbeda jika kita menggunakan doa. Mutlak kita memiliki keyakinan dan kepercayaan bahwa tiada kekuatan yang Maha Mengabulkan dan Mewujudkan segala apa yang kita impikan selain kekuatan-Nya. Memang terlihat tidak mandiri. Namun sejatinya bukankah kita memang adalah mahluk yang tidak mandiri ? Apalagi sebagai insan beragama, yang berilmu, yang paham dengan syariat, tata cara, hukum, adab dan adat, bukankah seharusnya lebih mengutamakan doa dalam mewujudkan setiap langkah dan impian kita…? Namun tak hanya sekedar berdoa, kawan. Bahkan berdoa pun ada adab-nya tersendiri. Dan jika kita mengerjakannya, bukankah ini akan lebih baik…? – daripada sekedar sibuk berkonsentrasi dengan afirmasi berulang-ulang dalam diri, “Aku bisa! Aku bisa!”.


Selain itu, esensi berdoa pun jauh lebih terpuji – dimana kita semakin dekat dengan-Nya, semakin menyadari bahwa betapa kita adalah mahluk yang lemah tanpa kemurahan dan pertolongan-Nya. Meskipun segala yang terucap, baik di hati maupun di bibir akan dikabulkan oleh-Nya, namun saya rasa Dia akan lebih senang jika kita berharap dan memohon sambil mengingat (kebesaran)-Nya – ketimbang sekedar mengingat dan mengungkit-ungkit keinginan dan kehendak pribadi melulu… Tanpa kita sadari, bahkan cara kita menggapai sesuatu pun sesungguhnya merupakan sebuah ujian dari-Nya, -- seberapa besar perbandingan prosentase kita percaya pada-Nya dengan percaya pada diri sendiri sebagai mahluk individual yang berkuasa penuh.


Lagipula, (ber)doa dapat menjadikan kita sebagai insan yang rendah hati, bersahaja, dan jauh dari kesombongan. Selain itu, doa pun menjadi kontrol atau pengendali emosi. Bagaimanapun, kendati nyaris 90 persen usaha dan kerja keras kita dapat terwujud sempurna, namun masih ada kemungkinan gagal telak 10 persen. Pernahkah engkau memiliki pengalaman dimana engkau sudah berusaha begitu keras, yakin begitu besar, namun kenyataan yang terjadi tidaklah sesuai dengan harapan kita ? Pengalaman saya sendiri dalam soal kejatuhan sudah tak terhitung banyaknya. Bahkan sempat pula saya mempertanyakan, dimana keampuhan semboyan ‘jika engkau yakin bisa, engkau pasti bisa!’. Menggunakan power of the mind ala barat, engkau akan lekas didera kekecewaan dan kehampaan yang membinasakan. Namun dengan kekuatan doa, engkau akan lebih selamat. Dengan berdoa, kita akan senantiasa menyadari bahwa ada yang lebih berkuasa dari kita – yakni Yang Mengabulkan doa kita. Ada yang lebih mengetahui dari kita. Yakni Yang Memegang Awal sampai Akhir. Dengan berdoa (sepenuh hati), akan ada keajaiban yang menggiringmu untuk lebih ikhlas menerima apapun yang terjadi. Dengan berdoa, engkau akan terhindar dari kebencian akan diri sendiri.


Bagaimana jika menggabungkan keduanya ? Power of mind, sekaligus kekuatan doa. Mungkin saja hasilnya jadi lebih tokcer. Tak mengapa, asal tak terlampau lupa diri. Jikalau pakaianmu kering, jangan terlarut untuk memuji matahari secara berlebihan. Pujilah yang memang patut dipuji, yakni Yang Menciptakan matahari.


Nah, sekarang semuanya terserah padamu. Mau memilih The Power of Mind… atau The Power of Praying….? Ini hanya sekedar opini. Anggap saja celoteh ringan. Tidak menutup kemungkinan bahwa engkau pun memiliki pemikiran yang berbeda dengan saya. Kebebasan itu selalu ada, bukan ? Sah-sah saja menggunakan the power of mind… apalagi jika engkau memang tidak mengetahui/memiliki semacam kepercayaan atau keyakinan yang mengatur tata cara atau adab berdoa yang baik… Yang penting, jangan pernah berhenti berharap, karena manusia yang hidup adalah manusia yang berharap. Silakan, mau mewujudkan harapan dengan cara yang bagaimana…. ;)




"Berdoalah kamu kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu."



1 comments:

www.dreamingstyle.com said...

DreamingStyle + PrayingStyle = Dahsyat.

The Power of Mind :
Impian dan Harapan adalah titipan Tuhan untuk Manusia ciptaan-NYA.

Makhluk tanpa Impian dan Harapan, SEPERTINYA...??? itu Ciptaan Tuhan yang lain.

Afirmasi adalah sebuah usaha awal pemberdayaan kemampuan Pikiran itu sendiri (The Power of Mind ---->INI titipan Tuhan juga) untuk memupuk, menumbuhkan, merperkuat, meningkatkan Kepercayaan Diri dalam sebuah Usaha Lanjutan untuk mewujudkan Impian dan Harapan.

Afirmasi bisa terjadi karena sebab dari luar Impian dan Harapan diri sendiri dan karena memang itu adalah keinginan diri sendiri.

Usaha adalah tindakan nyata dari akibat Afirmasi itu sendiri.

The Power of Praying :
Kesempatan, Peluang adalah salah satu petunjuk atau tanda yang datang dan dberikan Tuhan terhadap Manusia ciptaan-NYA, mau diambil atau tidak..??, itu tergantung terhadap Kemauan dan seberapa kuat Impian atau Harapan seseorang.

Berdoa adalah salah satu cara/bentuk ungkapan bakti dan takwa manusia kepada Tuhan.

Berdoa sebaiknya dilakukan karena atas dasar rasa Sembah, Bakti, Syukur, dan Terimakasih Kepada-NYA atas segala yang terjadi dan diberikan Oleh-NYA, BUKAN karena hanya memohon, memintak...memintak...dan memintak.

Tidak jarang terjadi manusia/orang yang "The Power of Mind" atau kemampuan berpikirnya rendah, berteriak menyalahkan Tuhan, karena merasa sudah sering bahkan setiap saat Berdoa hanya untuk memohon dan memintak (tapi tidak mau brusaha) agar keinginannya dikabulkan tidak terwujud.

Berdoa untuk memohon tanpa diikuti dengan tindakan nyata untuk berusaha adalah prilaku orang malas.

Peluang/Kesempatan + Impian/Harapan + Afirmasi + Usaha + Berdoa = Sukses.

Jika tidak Sukses itu adalah Takdir BUKAN Nasib.
Takdir tidak = Nasib.

Jadi :
The Power of Mind + The Power of Praying = Dahsyat.

Atau :
Dreaming Style + Praying Style = Dahsyat.

Salam,
Made Martayasa.