Saturday, March 27, 2010

Saya adalah seorang pengkhianat...

Andai saya dapat membekukan segenap rasa dan emosi saya, maka saya akan dapat menikmati hari dan kesibukan saya dengan tenang (tanpa pernah merasa putus asa hingga meraih tuts keyboard dan menulisnya pada blog ini). Bukannya saya kelebihan waktu luang hingga menjadi tenggelam atas kepedihan ini. Kesibukan saya saat ini sungguh luar biasa, memikirkan aneka permasalahan duniawi dalam kapasitas yang juga cukup menyita. Meskipun saya sama sekali tak abai dengan segala aktivitas dan kesibukan profesional yang luar biasa tersebut, namun sungguh, saya tak bisa bohong bahwa di sudut ruang hati dan perasaan saya, ada sebuah persoalan pelik yang sama sekali tak bisa saya kesampingkan. Saya memikirkannnya dari waktu ke waktu, bahkan demi detik berlalu.


Sejauh ini saya dapat menikmati hari dengan baik, mensyukuri teriknya matahari yang selalu bersinar dan malam yang selalu mendayu. Tapi jauh dari lubuk hati, rasanya saya sudah tidai kuat lagi menahan segenap kegundahan, kegelisahan, dan kesedihan saya yang teramat sangat. Kesedihan yang membuat saya senantiasa menangis pedih tanpa bisa berbuat apa-apa. Kesedihan besar, ketika mengetahui (dan menyadari kenyataan) bahwa saya adalah seorang pengkhianat… Ketika saya termakan bulat-bulat oleh sesumbar saya sendiri…


Entah, apakah saya adalah seorang pengkhianat terselubung atau pengkhianat yang terang-terangan, andai dapat memilih dan mengontrol diri saya sendiri, maka jelas saya tidak akan memilih untuk menjadi pengkhianat. Namun saya bahkan tak sanggup mengendalikan diri saya sendiri… Bahkan saya sama sekali tak punya kuasa atas diri saya sendiri… Ah, betapa lemah dan tak berdayanya saya…


Saya tahu bahwa perbuatan macam ini jelas tak bisa dibenarkan dari sudut pandang apapun. Apalagi bagi yang menjadi korban atas pengkhianatan saya. Saya sendiri pun amat tersiksa dengan cobaan ini… Tersiksa atas keadaan saya sendiri sebagai pengkhianat, sekaligus tersiksa atas akibat yang musti saya terima dari pengkhianatan saya… Sungguh amat maklum jika orang-orang yang saya khianati akan menjadi apriori terhadap saya. Namun bagi saya tak ada yang patut disesali, apalagi mengharap belas kasihan. Saya sudah mempersiapkan sekian pemakluman jika mereka mengetahui pengkhianatan saya…


Ketika saya menelaah hidup, kerap kali permasalahan seperti ini membuat saya kembali mengingat garis besar dan simpulan, bahwa manusia tak dapat dipercaya dan diandalkan. – padahal Tuhan mengangkat derajat manusia karena mereka terpercaya. Kemudian rasa lelah itu muncul kembali. Kelelahan akut yang teramat sangat. Saya lelah dengan kesedihan dan kebahagiaan yang begitu mudahnya datang dan pergi. Saya lelah dengan penemuan dan kehilangan yang berulang-ulang. Bahkan saya tetap merasa kelelahan meski telah membiarkan tangan saya kosong tanpa menyentuh apapun. Saya lelah dengan riuh kehidupan itu sendiri.

Satu hal yang membuat saya sembuh dari kelelahan itu, pelipur lara atas derita tak berkesudahan; mengetahui bahwa DIA selalu ada di samping saya. Ketika saya bahkan tak dapat menyentuh angin dan meraba dingin, DIA lah satu-satunya yang setia terhadap saya. Pelarian akhir saya ketika saya tak lagi dapat menemukan bilik sudut yang kosong untuk saya tempati. DIA lah satu-satunya dan akhir dari harapan saya – ketika memang saya tak lagi dapat berharap apapun dari kehidupan itu sendiri. DIA adalah keajaiban saya. Satu-satunya. Akhir dan segalanya.


Mungkin DIA dapat memaafkan diri saya atas dosa pengkhianatan yang telah saya lakukan. Namun saya sangat memaklumi bahwa orang-orang yang saya khianati tak memaafkan saya atau mengubah sikapnya terhadap saya… Jika memang seharusnya demikian… Saya sangat memaklumi perubahan. Dan kehidupan memang selalu berubah. Bahkan hati manusia pun senantiasa berubah-ubah. Seperti halnya saya tidak konsisten pada diri saya sendiri, hingga melakukan kebodohan yang paling fatal, yang naasnya tak sanggup saya hindari.

Namun satu hal yang tiada pernah berubah. Bahwa saya senantiasa berdoa dengan sungguh-sungguh atas segala kebaikan bagi mereka, bagi orang-orang yang saya khianati… Mengingat sepak terjang dan carut marut yang telah saya hadapi dengan ketegaran yang luar biasa, sungguh sangat naif jika saya masih berharap atas sebuah obsesi yang picik. Jika saya boleh menyampaikan sesuatu, -- meski saya tak henti-henti melakukan kesalahan dan keselipan yang konyol, namun ketahanan saya sudah cukup teruji dengan baik. Bukan lagi tentang manusia (yang membuat saya lelah) yang menjadi tema utama arah hidup saya. Apalagi saat menyadari siapa saya, bahkan sudah membuat saya bersyukur tak habis-habis ketika menemukan bahwa saya masih berkesempatan menghirup udara segar dengan nikmatnya.

Doa saya selanjutnya; Tuhan, mohon karuniakan saya kekuatan dan ketahanan ekstra dalam menghadapi warna hidup saya yang carut marut ini…


Saya adalah seorang yang gagal menjadi kakak dan sahabat yang baik… Maafkan saya…


-- manusia yang bijaksana adalah yang menyadari betapa bodohnya dia…Kepintaran adalah milik DIA satu-satunya... --

2 comments:

Robi said...

manusia ialah tempatnya salah dan sebaik-baik manusia ialah yang bertobat dari kesalahan.

Anonymous said...

Manusia pada dasarnya memiliki jiwa yang baik ,kadang keadaanlah yang membuat kita berbuat sesuatu yang sangat bertolak belakang dari kehendak hati nurani.justru hal tersebut membuat jiwa kita benar-benar tersiksa dan apabila tidak segera diselesaikan akan bertambah rancu,jadi sebaiknya hiduplah dengan kejujuran agar jiwa kita tenang tak terbebani dengan hal-hal yang menyiksa diri,mengaku salah dan mohon pengampunan dari Allah atas segala dosa akan membuat jiwa kita tenang,dari pada menyesali hal-hal yang memberatkan diri sendiri apalagi sampai mengutuk dan meratapi keadaan yang belum tentu benar -benar sesuatu yang jahat seperti yang sering kita pikirkan.Lebih baik dicoba untuk tenang dan merenung ,dalam keadaan seperti itu ,biasanya akan menumbuhkan kejernihan dalam berfikir untuk mengambil langkah-langkah selanjutnya,sebagai umat muslim biasanya dengan mendekatkan diri dengan Allah SWT kita akan segera mendapatkan jawaban atas segala kekalutan dan sudah barang tentu ,harus berdoa dengan sungguh -sungguh secara terus menerus insya Allah tidak ada masalah yang tak terselesaikan,selalu berfikir positif dan jangan terlalu keras dengan diri sendiri,kita juga memerlukan penghargaan pada diri sendiri merupakan kunci mengenal segala potensi yang ada ,membuat diri sendiri berarti di lingkungan di manapun berada .Percayalah Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang ....KasihNya tak bertepi dan sayangnya sangat luas,harus selalu ingat berhenti mengutuk diri,karena kita ini berarti bagiNya.