Monday, November 5, 2007

GAGAHNYA PATUNG PAHLAWAN INDONESIA di JAKARTA...

Perjalanan bangsa Indonesia tidak bergulir diatas permadani beludru yang empuk dan nyaman melulu, namun berjuang hingga bersimbah darah diatas kerikil dan cadas penjajahan yang menindas. Kemerdekaan hingga kemapanan yang kita raih saat ini adalah buah dari perjuangan para pendahulu kita yang patriotik. Dan sebagai bangsa yang beradab, sepatutnya lah untuk mengenang mereka para pahlawan, orang berjasa pada negeri tercinta ini.
Begitu menghargainya Indonesia terhadap para pahlawan, hingga tgl 10 november ditetapkan sebagai hari pahlawan. hari khusus untuk pahlawan. Saat untuk merayakan. Saat untuk mengenang.

"Bangsa yang menghargai pahlawannya adalah Bangsa yang besar"
Ungkapan heroik ini dilontarkan oleh Bung Karno, presiden pertama RI. Dan Bung Karno sendiri ingin mengkategorikan Indonesia sebagai bangsa yang besar. Jika ingin bukti, di wilayah Jakarta saja berdiri dengan megah dan gagah beberapa patung pahlawan atau patung-patung yang menggambarkan perjuangan bangsa. Sebut saja tugu Tani, patung Jendral Sudirman, tugu proklamator, patung Pangeran Diponegoro, Patung Kartini, dan masih banyak lagi patung-patung lainnya.

Tugu Tani, yang terletak di segitiga Menteng, Jakarta Pusat ini
dibuat oleh dua orang bangsa Rusia, yaitu Matvei Manizer dan Otto Manizer, yang diberikan sebagai hadiah kepada Pemerintah Republik Indonesia. Baik Matvei maupun Otto belum pernah ke Indonesia sebelumnya dan mereka mengadakan survey ke beberapa daerah di Indonesia sekedar untuk mencari inspirasi tentang bentuk patung yang memiliki sentuhan Indonesia. Pada sebuah desa di Jawa Barat, keduanya menemukan sebuah dongeng rakyat mengenai seorang ibu yang mengantarkan anak laki-lakinya berangkat ke medan perang. Untuk mendorong keberanian sang anak serta tekad memenangkan perjuangan, maka sang ibu memberikan bekal nasi kepada anaknya. Ide inilah yang kemudian diambil oleh Manizer bersaudara. Patung yang terbuat dari bahan perunggu ini dibuat untuk menggambarkan perjuangan Bangsa Indonesia. Pada saat itu
Bung Karno ingin merayakan perjuangan Bangsa Indonesia untuk membebaskan Irian Barat dari belenggu penjajahan Belanda. Patung ini digambarkan dalam dua bentuk orang, yakni pria dan wanita. Sang Pria digambarkan sebagai tipe seorang petani menyandang bedil, sedangkan sang wanitanya digambarkan berupa tipe seorang ibu yang sedang memberikan bekal kepada sang pria. Patung ini diresmikan oleh Bung Karno pada tahun 1963.

Ada pula beberapa batung pahlawan di seputaran taman Monumen Nasional (Monas). Salah satunya adalah patung Chairil Anwar, yang dibuat oleh Arsono. Ada pula patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda, terbuat dari perunggu seberat 8 ton.


Di jalan proklamasi, Jakarta pusat pun dibangun Tugu Proklamasi atau Tugu petir, sebuah tugu peringatan proklamasi kemerdekaan RI. Tugu Proklamasi berdiri di tanah lapang kompleks Taman Proklamasi di Jl. Proklamasi (dahulunya disebut Jl. Pegangsaan Timur No. 56), Jakarta Pusat. Pada kompleks juga terdapat
monumen dua patung Soekarno-Hatta berukuran besar yang berdiri berdampingan, mirip dengan dokumentasi foto ketika naskah proklamasi pertama kali dibacakan. Di tengah-tengah dua patung proklamator terdapat patung naskah proklamasi terbuat dari lempengan batu marmer hitam, dengan susunan dan bentuk tulisan mirip dengan naskah ketikan aslinya.
Setelah era reformasi, selain menjadi tempat yang spesial untuk acara peringatan Hari Kemerdekaan RI tiap tahunnya, lokasi ini pun menjadi tempat pilihan bagi berkumpulnya para demonstran untuk menyuarakan pendapat-pendapatnya.
Lain halnya ketika sore menjelang. Pada hari-hari yang biasa, para penduduk yang tinggal tak jauh dari lingkungan taman ini kerap berkunjung ke Tugu Proklamasi untuk berbagai aktivitas. Tempat ini menjadi tempat favorit anak-anak bermain, arena berolahraga, tempat berkumpul dan bertemu, atau hanya untuk duduk-duduk saja menghabiskan sore hingga senja datang.

Sedang di jalan protokol, ujung Jalan Sudirman, berdiri kokoh Patung Jenderal Sudirman . Patung itu baru berusia seumur jagung. Pengerjaannya
rampung dan diresmikan pada Agustus 2003. Secara keseluruhan tinggi patung itu mencapai 11 meter, terdiri atas patung inti (sosok Jenderal Sudirman) setinggi 6,5 meter dan penyangga setinggi 5,5 meter. Patung ini terbuat dari perunggu seberat 4 ton dan menyedot dana Rp 3,5 miliar. Perancang dan pematungnya adalah Sunaryo pelukis, pegrafis, pendesain interior, dan dosen seni rupa Institut Teknologi Bandung (ITB).
Jenderal Sudirman adalah seorang pemimpin pasukan gerilya pada masa perang kemerdekaan (1945-1949). Ia menyandang anugerah Panglima Besar. Karena itu, sosok dan pengabdiannya kepada bangsa dan negera layak dikenang dan diabadikan.
Kontribusinya yang besar pada tegaknya republik ini membangkitkan kenangan di seantero negeri. Maka, hampir di seluruh kota di Indonesia terdapat jalan protokol dengan nama Jalan Jenderal Sudirman.
Patung Jenderal Sudirman sebenarnya bukan barang langka. Yang terdapat di Dukuh Atas itu bukan satu-satunya di Jakarta. Di samping dijadikan nama gedung milik TNI, di muka Balai Sudirman di Jalan Sahardjo, Jakarta Selatan, pun terdapat patung Jenderal Sudirman di tengah kolam air mancur.

Sedang di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki yang populer disebut Taman
Ismail Marzuki (TIM) berlokasi dijalan Cikini Raya 73, Jakarta Pusat, dan merupakan sebuah pusat kesenian dan kebudayaan, juga dihiasi oleh patung kepala Ismail Marzuki. Di sini terletak Institut Kesenian Jakarta dan Planetarium Jakarta. Selain itu, TIM juga memiliki enam teater modern, balai pameran, galeri, gedung arsip, dan bioskop.
Ismail Marzuki adalah seniman yang memiliki reputasi internasinal. Tapi belum ada satu pun nama jalan yang mengabadikan namanya. Pernah ada usulan agar Jalan Cikini atau Jl Parapatan diubah jadi Jl Ismail Marzuki.

Namun begitu, pembuatan dan pemasangan patung-patung di berbagai sudut kota tak hanya memperhatikan kepentingan mengenang pahlawan semata, namun juga memperhatikan estetika perwajahan kota. Kota yang diperindah dengan patung-patung dirasa lebih elegan dan enak dipandang.
Meski demikian, seharusnya sebuah bangsa yang bijak adalah bangsa yang tak melulu memikirkan bagaimana mempercantik fisik bangsa, pun juga mementingkan nasib rakyatnya yang masih terperosok dalam ketimpangan dan kesenjangan yang semakin curam. Biaya pembuatan patung yang hingga menelan sekian rupiah bahkan dalam angka milyar, akan lebih berguna jika dialokasikan untuk membiayai proyek sosial yang mensejahterakan rakyat. Penjajahan secara nyata tak lagi dirasakan di era sekarang. Namun perjuangan bangsa akan lebih terwujud dengan meningkatkan harkat dan martabat bangsa, yakni melalui kesejahteraan, pendidikan, kemakmuran, dan sisi-sisi lainnya.
Sembari memakmurkan rakyat, pun mempercantik kota...
Jadi membangun satu dua patung pahlawan, boleh lah....

2 comments:

Anonymous said...

arientw.blogspot.com is very informative. The article is very professionally written. I enjoy reading arientw.blogspot.com every day.
quick cash loans
faxless payday loans

thedreamer said...

thanks..artikelnya sangat informatif...