Saya mencintai ibu saya, meski kadang-kadang rasa cinta itu timbul tenggelam seiring dengan perkembangan emosi saya yang naik turun. Dan saya yakin bahwa ibu saya pun mencintai saya (dengan kadar yang lebih banyak) meski kadang Beliau merasa kesal terhadap saya.
Tapi kami bersikap seolah-olah rasa cinta itu adalah sebuah perasaan naluriah yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Sama halnya dengan ketika saya makan, minum, tidur, ataupun buang air besar; saya tak pernah memusingkannya – tidak pula membahasnya dalam sebuah percakapan serius atau ungkapan tertentu. Saya memiliki pekerjaan yang bagus dan aktivitas yang berkualitas daripada sekedar membicarakan omong kosong semacam itu.
Itulah sebabnya, sensitifitas saya tumpul saat mengingat bahwa hari ini adalah perayaan hari ibu. Apa sebabnya hari ibu musti dicanangkan, apa pula yang harus dilakukan saat hari ibu menjelang – begitu pikir saya tak habis-habis. Saya tak lihai membuat adegan sinetron menangis atau memuja-muji ibu saya dengan setangkai kembang mawar putih, sedangkan dunia saya berkutat pada realita yang pragmatis dan rutin. Saya tak biasa menelepon – apalagi menulis dalam secarik kartu ucapan untuk mengungkapkan bait cinta layaknya skenario film lepas. Hal terpuji yang saya lakukan hanyalah selalu mengingat bahwa saya masih memiliki ibu. Secara nyata, ibu saya pun mungkin demikian – selalu mengingat bahwa ia masih memiliki anak; saya.
Simbolisme hari ibu jarang bermakna dalam di hati saya. Saya bahkan tak memiliki komentar apapun saat orang-orang berbondong mengungkapkan perasaan dan mengucapkan selamat hari ibu dalam status jejaring sosial mereka. Dalam benak saya, memikirkan ide berlibur di akhir tahun dan menyiapkan resolusi baru di tahun mendatang jauh lebih mengasyikkan saat kita sedang tak memikirkan apa-apa.
Dunia baru saya di masa sekarang memang lebih menggairahkan. Saya telah mencapai kedewasaan dan skala kemapanan tertentu di sebuah lingkungan dan situasi yang mempercayakan saya sepenuhnya sebagai sosok mandiri. Sebuah pencapaian yang, sewaktu saya kecil, seringkali menjadi impian – saya ingin menjadi orang dewasa yang hanya akan memikirkan urusan-urusan orang dewasa.
Senangnya bukan main saat ibu saya tak lagi seenaknya menjewer saya jika saya lolos dari jam tidur siang. Girangnya bukan kepalang saat saya tak lagi mendengar omelan ibu saya yang berkepanjangan ketika saya memporakporandakan sekarung mainan saya. Kini, hal yang paling sering ibu ucapkan ketika kami berdialog melalui pesawat telepon hanyalah, ‘kapan kamu pulang mengunjungi ibu?’ – hanya sebatas kalimat sederhana yang tak banyak menuntut.
Setelahnya, saya lebih banyak terhenyak dalam kesendirian. Sejak saya merasa ‘tumbuh lebih besar’, saya justru kerap terjebak dalam kesendirian meski dunia di sekitar saya ribut dan bergolak. Saya mencicipi aroma pengkhianatan, persaingan, kecemburuan, kenaasan dan kehampaan yang biasa dirasakan pula oleh banyak orang dewasa lainnya. Saya mulai menyediakan waktu untuk memilah dan memilih orang-orang yang sejatinya benar-benar memihak dan berdiri di samping saya. Kelebat wajah-wajah orang datang silih berganti, berikut dengan kepalsuan dan kepentingan mereka.
Pada putaran terakhir, wajah ibu lah yang melekat erat dalam pikiran saya. Saya bahkan tak bisa menghapus bayangan beliau demi menggantinya dengan sosok kekasih-kekasih saya, ayah saya, atau orang-orang lain yang saya cintai secara musiman. Saya membutuhkan spirit ibu demi menyambung asa dan semangat saya. Saya membutuhkan bayangan ibu kala saya mulai terkapar dalam keputusasaan yang sepi dan miris.
Saya menangis… menangis kala mengingat ibu. Begitu saja.
Selanjutnya, saya selalu memiliki aktivitas-aktivas semacam itu, yang saya anggap berkualitas dan bersifat sangat pribadi. Saya tak pernah mengungkit perihal aktivitas saya ini pada siapapun, terlebih pada ibu saya.
Saya selalu mengatakan pada ibu saya bahwa saya baik-baik saja.
Begitu banyak kepalsuan dan kebohongan yang saya hidangkan di depan ibu saya. Saya bukan lagi gadis kecilnya yang akan mengaku telah mengambil roti kismis dari lemari simpanan saat ibu menyetrap saya di ruang gudang. Semakin usia dan tingkat kematangan saya berkembang, semakin berat nilai kebohongan yang musti saya sajikan. Dosa-dosa dan kekhilafan orang besar memang selalu bernilai lebih dramatis dari sekedar kenakalan bocah. Namun saya tak pernah berpikir dan bermaksud bahwa saya memiliki ketegaan yang suram terhadap ibu saya. Mungkin saya bisa berdalih, bahwa saya tak ingin membebani beliau dengan masalah-masalah saya. Saya tak tahu, apakah perasaan dan tingkah laku semacam ini didefinisikan sebagai cinta atau retorika kepura-puraan.
Saya tak berbohong bahwa diantara sekian banyak aktivitas dan permasalahan saya yang padat, saya senantiasa memikirkan ibu saya. Mungkin, tanpa saya tahu, ibu saya pun memiliki perasaan dan tingkah laku yang sama seperti saya. Siapa yang bisa menduga…?
Kami memiliki hubungan darah, dan ikatan batin itu selalu saya percaya.
Mungkin saya memang tak pernah tahu bahwa nama saya selalu terucap dalam tiap-tiap untaian doa ibu sepanjang waktu. Namun ibu saya pun tak tahu bahwa saya tak pernah absen untuk memikirkan dan mengingatnya dari waktu ke waktu.








































.jpg)












Pada suatu kali, saya berniat hendak mampir ke mall Kalibata dalam perjalanan pulang ke Bogor. Pengen beli J.Co buat keponakan....








