Tuesday, December 22, 2009

Rahasia Terbesar Saya pada Ibu

Saya mencintai ibu saya, meski kadang-kadang rasa cinta itu timbul tenggelam seiring dengan perkembangan emosi saya yang naik turun. Dan saya yakin bahwa ibu saya pun mencintai saya (dengan kadar yang lebih banyak) meski kadang Beliau merasa kesal terhadap saya.


Tapi kami bersikap seolah-olah rasa cinta itu adalah sebuah perasaan naluriah yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Sama halnya dengan ketika saya makan, minum, tidur, ataupun buang air besar; saya tak pernah memusingkannya – tidak pula membahasnya dalam sebuah percakapan serius atau ungkapan tertentu. Saya memiliki pekerjaan yang bagus dan aktivitas yang berkualitas daripada sekedar membicarakan omong kosong semacam itu.


Itulah sebabnya, sensitifitas saya tumpul saat mengingat bahwa hari ini adalah perayaan hari ibu. Apa sebabnya hari ibu musti dicanangkan, apa pula yang harus dilakukan saat hari ibu menjelang – begitu pikir saya tak habis-habis. Saya tak lihai membuat adegan sinetron menangis atau memuja-muji ibu saya dengan setangkai kembang mawar putih, sedangkan dunia saya berkutat pada realita yang pragmatis dan rutin. Saya tak biasa menelepon – apalagi menulis dalam secarik kartu ucapan untuk mengungkapkan bait cinta layaknya skenario film lepas. Hal terpuji yang saya lakukan hanyalah selalu mengingat bahwa saya masih memiliki ibu. Secara nyata, ibu saya pun mungkin demikian – selalu mengingat bahwa ia masih memiliki anak; saya.


Simbolisme hari ibu jarang bermakna dalam di hati saya. Saya bahkan tak memiliki komentar apapun saat orang-orang berbondong mengungkapkan perasaan dan mengucapkan selamat hari ibu dalam status jejaring sosial mereka. Dalam benak saya, memikirkan ide berlibur di akhir tahun dan menyiapkan resolusi baru di tahun mendatang jauh lebih mengasyikkan saat kita sedang tak memikirkan apa-apa.


Dunia baru saya di masa sekarang memang lebih menggairahkan. Saya telah mencapai kedewasaan dan skala kemapanan tertentu di sebuah lingkungan dan situasi yang mempercayakan saya sepenuhnya sebagai sosok mandiri. Sebuah pencapaian yang, sewaktu saya kecil, seringkali menjadi impian – saya ingin menjadi orang dewasa yang hanya akan memikirkan urusan-urusan orang dewasa.


Senangnya bukan main saat ibu saya tak lagi seenaknya menjewer saya jika saya lolos dari jam tidur siang. Girangnya bukan kepalang saat saya tak lagi mendengar omelan ibu saya yang berkepanjangan ketika saya memporakporandakan sekarung mainan saya. Kini, hal yang paling sering ibu ucapkan ketika kami berdialog melalui pesawat telepon hanyalah, ‘kapan kamu pulang mengunjungi ibu?’ – hanya sebatas kalimat sederhana yang tak banyak menuntut.


Setelahnya, saya lebih banyak terhenyak dalam kesendirian. Sejak saya merasa ‘tumbuh lebih besar’, saya justru kerap terjebak dalam kesendirian meski dunia di sekitar saya ribut dan bergolak. Saya mencicipi aroma pengkhianatan, persaingan, kecemburuan, kenaasan dan kehampaan yang biasa dirasakan pula oleh banyak orang dewasa lainnya. Saya mulai menyediakan waktu untuk memilah dan memilih orang-orang yang sejatinya benar-benar memihak dan berdiri di samping saya. Kelebat wajah-wajah orang datang silih berganti, berikut dengan kepalsuan dan kepentingan mereka.


Pada putaran terakhir, wajah ibu lah yang melekat erat dalam pikiran saya. Saya bahkan tak bisa menghapus bayangan beliau demi menggantinya dengan sosok kekasih-kekasih saya, ayah saya, atau orang-orang lain yang saya cintai secara musiman. Saya membutuhkan spirit ibu demi menyambung asa dan semangat saya. Saya membutuhkan bayangan ibu kala saya mulai terkapar dalam keputusasaan yang sepi dan miris.


Saya menangis… menangis kala mengingat ibu. Begitu saja.


Selanjutnya, saya selalu memiliki aktivitas-aktivas semacam itu, yang saya anggap berkualitas dan bersifat sangat pribadi. Saya tak pernah mengungkit perihal aktivitas saya ini pada siapapun, terlebih pada ibu saya.

Saya selalu mengatakan pada ibu saya bahwa saya baik-baik saja.


Begitu banyak kepalsuan dan kebohongan yang saya hidangkan di depan ibu saya. Saya bukan lagi gadis kecilnya yang akan mengaku telah mengambil roti kismis dari lemari simpanan saat ibu menyetrap saya di ruang gudang. Semakin usia dan tingkat kematangan saya berkembang, semakin berat nilai kebohongan yang musti saya sajikan. Dosa-dosa dan kekhilafan orang besar memang selalu bernilai lebih dramatis dari sekedar kenakalan bocah. Namun saya tak pernah berpikir dan bermaksud bahwa saya memiliki ketegaan yang suram terhadap ibu saya. Mungkin saya bisa berdalih, bahwa saya tak ingin membebani beliau dengan masalah-masalah saya. Saya tak tahu, apakah perasaan dan tingkah laku semacam ini didefinisikan sebagai cinta atau retorika kepura-puraan.


Saya tak berbohong bahwa diantara sekian banyak aktivitas dan permasalahan saya yang padat, saya senantiasa memikirkan ibu saya. Mungkin, tanpa saya tahu, ibu saya pun memiliki perasaan dan tingkah laku yang sama seperti saya. Siapa yang bisa menduga…?

Kami memiliki hubungan darah, dan ikatan batin itu selalu saya percaya.


Mungkin saya memang tak pernah tahu bahwa nama saya selalu terucap dalam tiap-tiap untaian doa ibu sepanjang waktu. Namun ibu saya pun tak tahu bahwa saya tak pernah absen untuk memikirkan dan mengingatnya dari waktu ke waktu.

Wednesday, April 15, 2009

Pemilu 2009: Keruwetan Tiada Akhir


Pemilihan calon legislatif 2009 baru saja usai. Namun pesta demokrasi yang semula diharapkan sebagai pesta sukacita justru berubah, menuai kekacauan-kekacauan yang tak sedikit. Mulai dari masalah money politik, kesalahan DPT, KPU yang tak dianggap independen, hingga intimidasi gedung rektorat yang dicurigai sebagai sabotase pemilu. Saya jadi ingat sebuah running text di televisi yang menyatakan bahwa Pemilu Indonesia 2009 adalah pemilu paling rumit sedunia. Rupanya memang benar begitu.


Yang cukup menggelitik pikiran saya, berbagai rumah sakit jiwa di Indonesia telah menyiapkan antisipasi bagi para caleg gagal yang jiwanya berubah jadi tak normal. Deretan kamar VIP telah menunggu. Namun mengapa harus VIP? Padahal caleg yang kalah pasti telah bangkrut… Dari beberapa berita yang saya ikuti, ketidakberesan mental caleg gagal pasca pemilu lebih banyak dikarenakan ketidaksiapan kehilangan harta kekayaan pribadi yang berjumlah besar. Bisa jadi mereka bahkan tak lagi punya simpanan. Hutang menumpuk.


Namun dibalik itu semua, ada pula berkah pemilu yang tak ternilai. Kita jadi dapat melihat sisi manusia secara jernih. Apakah caleg tersebut benar-benar berdiri diatas kepentingan rakyat atau culas dan tamak. Ternyata ada pula yang meminta kembali karpet yang telah diberikan pada kelompok pengajian hanya karena anggota pengajian tak memilihnya saat penyontrengan. Dan ada pula yang dengan tega menggusur warga miskin dari tanahnya hanya karena mereka tak memilihnya. Untunglah mereka memang benar-benar tak terpilih…


Kalah menang merupakan bagian dari kompetisi. Yang menang yang berjaya, yang kalah yang… Seharusnya yang kalah memiliki jiwa besar dan mental sportif. Tidak mengeong dan meraung, mencakar ruang kosong. Sudah lemah, malah semakin menunjukkan kelemahannya. Namun ttulah fenomena yang menjangkiti partai saat ini. Saya bukanlah pembela Demokrat karena saya bahkan tak ikut memilih dengan alasan ideologi (selain saya juga yakin bahwa saya tak akan terdaftar dalam daftar DPT). Sekedar mengamati saja, kemudian merasa geli. Para partai yang kalah suara kemudian mencari-cari kesalahan (yang kebetulan memang banyak kesalahan dan kekurangan), berusaha menjatuhkan, tak bisa menerima kenyataan. Padahal terlepas dari kecurangan atau kejujuran (yang notabene adalah bagian dari kehidupan yang tak terpisahkan), kemenangan sudah dilegitimasi. –Kalau ingin kejujuran 100%, tunggulah saat ketika Anda menginjak surga.--


Ibarat ketika saya melamar sebuah pekerjaan dengan segala keoptimisan dan kemampuan saya dan memperkirakan bahwa saya 100% bakal diterima, pada hasil akhir ternyata saya gagal. Pasti disebabkan oleh faktor-faktor, antara lain karena kompetitor saya memang lebih potensial, atau karena adanya kecurangan dalam perebutan posisi pekerjaan. Namun apapun hasilnya (dengan cara apapun), saya cukup berbesar hati menerima keputusan tersebut. Saya senantiasa berpikir positif, sibuk dengan introspeksi diri ketimbang mencari-cari kesalahan orang lain dan meng klaim bahwa proses perekrutan tidak fair (selain buang-buang energi, pun sia-sia). Saya yakin bahwa mungkin Tuhan menentukan yang berbeda untuk kebaikan dan kemaslahatan saya. Haha… Saya cukup potensial untuk menjadi caleg, bukan??? Just kiddin… -- Cara terbaik untuk membina negeri ini adalah dengan membina mental diri sendiri terlebih dahulu. –


Saya jadi teringat proses pemilihan Pilkada Jawa Timur yang begitu menghebohkan. Tak akan jadi menghebohkan jika Khofifah tidak berteriak sebegitu lantangnya. Ibarat kucing kecil mengeong saat terluka. Dan meski kenyataannya memang terjadi sekian kecurangan, hasil toh tak berubah. Jika memiliki jiwa besar, maka akan lebih lapang dan tenang di hati. Akan lebih ikhlas bahu membahu memajukan negeri. Namun jika panas hati tak kunjung hilang, maka iri dengki lah yang senantiasa menjadi racun dalam diri. Pun tak mendapatkan kebersahajaan dimata lingkungan sekitar. Namun sayangnya, manusia lebih peduli pada kekuasaan pribadi...


Saat ini isu bergerak ke arah koalisi, sebelum menginjak pada pemilihan calon presiden. Ada Golden Triangle yang dimotori oleh PDIP, dan ada Golden Bridge yang dikibarkan oleh Partai Demokrat. Partai-partai manakah yang condong pada masing-masing kubu tersebut ?


PDIP cenderung memiliki kultur agresif. Kadangkala mudah panas. Merah. Betapa cocoknya simbol-simbol PDIP dengan personalitas kader maupun simpatisan di dalamnya. Dan cocok sekali menjadi karakter partai oposisi. Mungkin memang sudah seyogyanya demikian. Dan seharusnya partai-partai yang berkoalisi dengan PDIP adalah partai yang memiliki irama senada, selain visi yang sama tentunya. Irama adalah komponen terpenting dalam keberlangsungan sebuah hubungan. Meskipun tujuan sama, namun jika irama A menghentak-hentak sedangkan irama B lebih melankolis, tentu saja akan ada banyak penyimpangan nantinya.


Partai Demokrat lebih moderat, tenang tapi pasti. Sangat sesuai dengan karakter SBY. Maka seharusnya partai-partai yang berkoalisi dengan Partai Demokrat pun adalah partai yang memiliki irama sama.

Benarkah perkiraan saya ? Atau saya hanya asal bicara saja ? Anda bebas mengemukakan komentar.


Bagaimana dengan Golkar ? Hendak bersatu dengan kubu manakah mereka ? Saya cenderung merasa bahwa sejatinya irama Golkar tak jauh berbeda dengan Demokrat. Lepas dari kepentingan memajukan bangsa, partai pun memiliki kepentingan yang bersifat keuntungan. Golkar dilambangkan oleh pohon beringin. Pohon beringin adalah simbol kemakmuran, kesejahteraan, dan kebersatuan yang menghasilkan kekuatan. Pohon beringin tak akan menyeduruk dengan beringas, namun lebih pada menjalarkan surainya mendekati obyek yang didekatnya. Tentu saja dengan salah satu motif keuntungan. – Bagaimanapun, duduk di kursi pemerintahan jauh lebih mengakomodir keuntungan daripada menjadi oposisi yang terkuat sekalipun.


Kalaupun pernah terjadi persinggungan yang tak mengenakkan antara SBY dan JK, hal itu bukanlah menjadi landasan untuk menentukan keberlangsungan hubungan ke depan. Saat SBY – JK menjadi presiden dan wapres, keduanya adalah satu kesatuan. Bagi rakyat berakal sehat, hasil kerja keras bangsa merupakan jerih payah kesatuan tersebut. Tak hanya SBY saja, atau pun JK sendiri. Sangat tak layak jika SBY dan JK saling berkompetisi mencari nama, sedangkan mereka berdua merupakan satu kesatuan. Saat saya mendengar tayangan opini salah seorang pengamat politik yang bernama …. Hagenz, saya merasa geli saja ketika nada dan gelagatnya bak seorang provokator yang memanasi Golkar untuk berdiri sendiri, mengajukan capresnya sendiri. Pernyataannya menyiratkan bahwa betapa Golkar (JK) telah dianiaya dan dizolimi Demokrat (SBY), sehingga perlu membalas dendam. –Tentu saja itu hanya kesimpulan saya sendiri, karena ia tak mengatakannya persis demikian.

Yang saya tak habis pikir dengan pengamat politik tersebut, bisa-bisanya ia menerapkan karakter pribadinya pada karakter Golkar… (apakah saya rasis…?)


Jika dibahas habis semua isu pemilu dan kronik-kroniknya, sepanjang-panjangnya halaman akan senantiasa menarik. Emosional, geli, acuh, dan segudang ekspresi lainnya. Tak ada yang menginginkan perpecahan untuk bangsa tercinta ini. Seburuk-buruknya proses pemilihan yang terjadi, masih tersisa secuil harapan bahwa masa depan bangsa untuk lima tahun kedepan sedikit lebih cerah ketimbang lima tahun kebelakang.


Friday, February 20, 2009

Membiakkan Kultur Kekerasan (verse: Asrama Kepolisian Sulawesi Tengah)

Melihat tayangan video ulah kekerasan yang dilakukan di asrama kepolisian, sungguh kecut hati saya. Semakin miris kala sebuah stasiun televisi swasta menayangkannya hingga berulang-ulang, bak sebuah adegan eksklusif yang akan segera meningkatkan rating acara. Tak peduli bahwa adik TK saya juga ikut menonton. Tak anggap meski keponakan SD saya juga turut menyaksikan.

Sepertinya, kultur kekerasan di negara kita tak pernah tercerabut begitu saja meski berbagai kejadian pahit masa lampau menghantarkan pada komitmen 'hapus kekerasan', terutama di lingkungan institusi pendidikan. IPDN tak bikin jera. Institut Perikanan tak bikin kapok. Sekarang malah kepolisian. Sudah mendarah daging kah...?

Jangan-jangan, untuk sekolah-sekolah pemerintahan macam itu, tempa kekerasan sudah menjadi kurikulum wajib yang tak boleh dilewatkan. Akibatnya, karena berbasis 'otot dan kegarangan', misi dalam membentuk penyedia/pelayan yang baik bagi masyarakat jadi terkontaminasi. Semasa pendidikan terbiasa dengan kekerasan. Saat terjun di masyarakat, jadi kangen dengan 'tradisi menyenangkan' tersebut. Maka, tak ada rotan akar pun jadi. Tak ada sasaran layak, masyarakat awam pun boleh jadi. -- Boleh jadi sasaran kekerasan sekali-sekali.
Tampang garang sudah pasti, tapi pribadi yang menyenangkan dan memberi pelayanan yang memuaskan, apa ya sudah dimiliki...?

Ah, salahkah saya jika berpikir bahwa untuk masuk sekolah-sekolah tersebut tidaklah perlu terlalu pintar ? Mental psikologis yang matang dan improvisasi intellectual resposif juga tak begitu diperlukan. Yang penting badan sehat dan kuat menahan tamparan, sodokan atau tendangan dari kakak senior.

Tapi mereka tak mau mengaku!!!!!! Lha iya lahhh... hanya orang gila yang mau mengaku dengan ganjaran dijebloskan ke dalam penjara. "Itu hanya sandiwara dengan skenario, kok Pak..."
So... kalau memang itu benar-benar hanyalah sandiwara belaka, apakah lantas menjadi bebas lepas dan bersuka cita ?
-- wah, pak kapolda juga sepertinya agak percaya dengan bualan anak-anak kemarin sore yang 'nakal itu'. Gimana sih, pak...?--
Lepas dari keanehan 'mengapa sampai ada yang merekam', sandiwara berskenario bukanlah alibi untuk lepas dari jeratan hukuman tindak kekerasan.
Maka nikmatilah sandiwara-sandiwara lain yang lebih biadab dan barbar suatu saat nanti.
Kultur kekerasan sudah terhapuskan. Tapi kemudian muncul kultur 'sandiwara kekerasan'. Yaaa... bisa jadi ide untuk acara penyambutan siswa baru atau perpisahan. Seru kan ??
Itukah pendidikan negeri kita tercinta ?
Pantas saja kalau semua kemajuan, bahkan omong-omong para caleg dan capres, pun hanya sandiwara belaka.
Menurut saya, entah itu mereka mengaku sandiwara atau memang betulan, hukuman yang diberikan haruslah sama. Setidaknya buat mereka jera, jangan pernah melakukan sandiwara konyol macam itu lagi karena berakibat fatal untuk diri mereka sendiri. Dan pembelajaran itu pun bisa menjadi refleksi bagi yang menyaksikan, menonton, atau yang sudah punya ide untuk melakukannya.
Saya pun tidak menyukai tontontan sinetron yang mengeksploitasi kejahatan yang amat sangat dan kekerasan. Namun lihatlah, tayangan sinetron yang kita memiliki hampir sebagian besar menghidupkan tokoh yang 'jaahatttnya nggak ketulungan'. Sampai-sampai saya heran, benarkah di kehidupan nyata memang ada karakter sejahat itu... DInamika manusia yang tak melulu hitam atau putih kerap ditiadakan.
Marilah mendidik diri secara lebih matang, dewasa, dan berbudaya baik. Bukankah kita semua mengharapkan ketentraman dalam berbangsa ?


Friday, February 6, 2009

Di Balik Tewasnya Ketua DPRD Sumatera Utara

Anarkisme -- Paham baru atau karakter dasar…?


Awal februari 2009, headline berita paling menarik adalah tewasnya Ketua DPRD Sumatera Utara H Azis Angkat akibat aksi anarkis pengunjuk rasa yang menuntut otonomi Tapanuli untuk dijadikan sebagai propinsi tersendiri.

Sungguh miris rasanya, mengetahui kenyataan bahwa mentalitas rakyat bangsaku tercinta ini tak ubahnya seperti orang barbar yang amat primitif. Sudah hilangkah etika dan keberadaban manusia itu ? Atau... jangan-jangan masih belum dipunyai...?

Saat ini, nyawa manusia seolah tiada harganya lagi. Demi kekuasaan dan gemerlap kemapanan, segala cara jadi dihalalkan.


Kenapa harus merusak ? Kenapa harus marah ?

Namun memang seperti itulah mental para pengecut yang kekanakan. Tidak dewasa dan tidak bijak.

Kenapa harus menuntut untuk menjadi negara yang maju, makmur, dan damai ? Selama mental negatif itu masih dipupuk dan dipelihara, target untuk menjadi negara maju yang makmur, sejahtera dan damai hanya tinggal impian di siang bolong.


Kekerasan hanyalah aksi konyol yang tak ubahnya seperti anak kecil ketika keinginannya tak terkabul. Merajuk, meronta-ronta di atas tanah, kemudian memukul siapa saja yang lewat. Melakukan hal demikian karena mereka hanya memiliki jalan pikir dan otak yang pendek. Senang sesaat, tak pertimbangkan kelanjutannya. Bodoh sama dengan ceroboh. Layaknya hanya jadi bahan tertawaan saja. Hanya menjadi pengikut yang ikut-ikutan. Jika masih tetap seperti itu, jangan mengeluh jika terus menerus menjadi negara terbelakang yang gampang ditipu daya dan dieksploitasi pihak-pihak yang jauh lebih cerdik. Protes mereka hanya sekedar tong kosong nyaring bunyinya, karena kelaparan saja. Kalau tak diturut, bakal mencakar.

Kekerasan bukanlah pemecahan, namun hanya sekedar menjadi bahan tertawaan yang ironi saja.


Dalam kasus ini, hal pertama yang menurut saya patut dipertanyakan tanggung jawabnya adalah pihak Polri. Mengapa sampai tak bisa mengantisipasi ? Padahal informasi mengenai akan adanya demo sudah diperoleh meski baru semalam sebelumnya. Mereka juga telah mendapat informasi perkiraan jumlah massa yang akan berunjuk rasa. Cukup mengherankan jika polri hanya mengerahkan personil sedemikian sedikit. Apakah mereka menyepelekan keadaan ? Tampak sekali bahwa kesiapan dan kesigapan kinerja Polri amat tidak optimal. Dalam hal ini tak hanya kuantitas yang dikerahkan, namun juga kesigapan dalam merespon keadaan. Misalnya saja dalam proses evakuasi. Bukankah seharusnya mereka sudah terlatih untuk hal demikian ? Mengapa jadi hilang akal…? Kali ini, patutkah kita mengandalkan alat pelindung masyarakat tsb ? Karena kali ini nyata-nyata tak bisa melindungi...


Selayaknya demonstrasi di negeri ini, bukan hal yang mengherankan lagi jika banyak demontrasi yang ditunggangi oleh pihak-pihak rahasia yang berkepentingan. Mereka yang punya ‘mau’ akan sesuatu mencoba untuk menjadi provokator dan memanfaatkan orang-orang yang ‘malas berpikir panjang’ untuk membakar keadaan. Asal ada uang, asal ada iming-iming, semua bisa dilakukan. Apalagi jaman sudah menjadi sedemikian susah… Di negeri ini, sangat mudah untuk mendapatkan massa meski dengan iming-iming yang tak begitu berharga sekalipun! Mereka yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan adalah orang-orang yang haus kekuasaan dan kemapanan gemerlap tanpa memperhitungkan nurani dan etika berbudaya. Walhasil, perilaku preman tanpa moral lah yang dipunyai.


Saya kurang begitu yakin, apakah massa yang sejumlah hampir ribuan orang itu benar-benar mengetahui dan paham tujuan, hakekat, dan misi dari demo itu sendiri ? Apakah sejak dari rumah mereka memang sudah merancang skenario hendak menghancurkan dan memporakporandakan gedung DPRD ? Atau…. Apakah perilaku anarkhi merupakan salah satu dari stereotype mereka … ?

--- fakta baru yang ditemukan, ternyata para massa itu dibayar 25ribu untuk melakukan unjuk rasa tersebut---


Fakta lainnya, ternyata salah satu pengunjuk rasa tersebut adalah anggota dewan. Loh kok…?

Hal lain yang menjadi ganjalan adalah adanya pihak pers yang seolah menjadi ‘pemanas’ atas desakan otonomi Tapanuli. Sayang sekali, padahal media pers seharusnya menjadi refleksi yang netral, berimbang, obyektif. Tidakkah ini merupakan propaganda pembodohan massa…?


Walau demikian, saya berharap semoga tidak demikian kenyataannya. Tanpa pretensi apapun, mari kita bangun etos dan perilaku positif demi berdirinya sebuah negara maju, mandiri, aman dan damai. Kalaupun ada oknum yang memposisikan diri sebagai antagonis, semoga lekas tergiring ke ‘tempat seharusnya’ tanpa menyulut api anarki sebagai tandingan. Memang tak mudah, tapi jika dimulai dari kesadaran dan komitmen dari lini bawah hingga yang paling atas, kerjasama yang baik bisa digalang dan hasil optimal bisa tercapai.


Selanjutnya ada usulan untuk menobatkan Azis Angkat sebagai pahlawan demokrasi. Tidakkah ini terlalu impulsif dan berlebihan ? Kronik masalah yang dihadapi tak sesederhana itu. Jika menyinggung soal demokrasi, mengapa sampai terjadi unjuk rasa ? Bukankah unjuk rasa merupakan salah satu indikasi ketidakpuasan terhadap alur demokrasi…?

Azis Angkat adalah seorang ketua DPRD. Kalaupun beliau bersikap menjadi penengah, penampung aspirasi, atau langkah-langkah lain yang perlu dilakukan sebagai sebuah kewajiban dan konsekuensi tugas sebagai ketua DPRD, memang seperti itulah yang harus dilakukan. Jika menelaah dan membandingkan pertimbangan ini, bagaimana kriteria sebuah sikap heroik – (sehingga bisa dianggap hero) ?

Apakah guru yang mengajar perlu diangkat sebagai pahlawan ? Apakah tukang sapu yang menyapu perlu diangkat sebagai pahlawan ? Apakah juru tulis yang mengetik perlu diangkat sebagai pahlawan ? Konvensi yang kerap berlaku, siapapun yang meninggal dalam tugas memang terkesan lebih dramatis…


Aksi kekerasan anarkhi yang tak bermartabat tak hanya terjadi kali ini saja. Peristiwa bentrokan antar kampung mulai dari wilayah Jakarta hingga Ambon, sampai ke peristiwa tawuran mahasiswa di negeri ini. Sebegitu akrabkah bangsa Indonesia dengan aksi kekerasan yang membabi buta sehingga saling menyakiti sesamanya ?

Sungguh konyol jika melihat perilaku seperti ini. Di sisi lain, saat Israel menggempur habis-habisan Gaza, mereka sok patriotik dan sok manusiawi dengan menghujat dan mengutuki Israel.

Tapi saya justru lebih respek pada Israel.Setidaknya Israel jauh lebih elegan, terhormat, dan bermartabat dengan menyerang musuh nyatanya yang jelas-jelas lain negara beda keyakinan dan beda paham, ketimbang saling menyerang dan melukai orang-orang yang nyata-nyata masih saudara sendiri dan bernaung dibawah payung yang sama, misalnya NKRI. Apakah keributan itu tidak terkesan mengada-ada ? Pantas saja kalau sinetron di negeri ini masih memiliki banyak peminat, karena bangsa kita lebih mencintai drama, sehingga hidup sendiri pun didramatisasi.


Ha!!! Kesalahan orang lain nampak di depan mata, tapi kesalahan sendiri tak terlihat!!!

Apa tidak lebih baik membenahi diri sendiri terlebih dahulu ketimbang mencaci maki dan menghujat orang lain…?


Wednesday, January 14, 2009

Kala Banjir Menghadang...

text n photo-photo : Arien TW

Fatimah, wanita asal Bogor yang menjadi urban di Jakarta tak punya banyak pilihan.
Ia terpaksa tinggal di bantaran kali Ciliwung kawasan Bukit Duri Jakarta Timur. Padahal, kala hujan datang, daerah tersebut selalu dilanda banjir. Setiap saat Fatimah harus siap sedia memindahkan barang-barang dari lantai bawah ke loteng atas saat air menggenang.


Begitulah yang ia lakukan pada rabu pagi, 14 Januari 2009, saat air bah coklat keruh nyaris menggenangi lantai rumahnya akibat banjir.
Bukan rumah tepatnya, tapi hanya sepetak kamar yang kumuh dan ala kadarnya berukuran 3 x 4 m, yang ia sewa seharga 200 ribu rupiah per bulan. Sedang loteng atasnya ia buat atas prakarsa sendiri dari aneka kayu dan sirap bekas demi mengantisipasi banjir. Ia tinggal bersama anak lelaki semata wayangnya yang masih berusia 7 tahun, sedang suaminya telah tak ada. Tanpa bantuan siapapun, Fatimah sibuk memindahkan barang-barang, menguras air yang menggenangi lantai, dan mengepelnya. "Semalam tingginya bahkan mencapai 2 meter" katanya mengisahkan. "ini sudah lumayan surut".

Meski sudah menjadi musibah tahunan, ia tak pernah merasa jera. Selama 8 tahun di Jakarta, Fatimah musti bertahan kala banjir menghadang.
“Di Jakarta, kontrak di daerah ini paling murah. Pengennya sich pindah ke tempat lain, tapi kalau buruh cuci seperti saya ya tidak mampu membayar kontrak yang lebih mahal dari itu” katanya.


Fatimah hanyalah satu dari sekian ribu jiwa yang bertaruh nyawa di bantaran kali Ciliwung. Kebanyakan dari mereka adalah kaum poor urban yang mengadu nasib ke kota besar. Namun beberapa peser uang yang mereka dapatkan ternyata masih belum cukup untuk menghidupi keluarga, apalagi mendapatkan rumah di tempat yang layak. Satu-satunya rumah tinggal yang bisa mereka jangkau adalah daerah yang berdekatan dengan kali Ciliwung.
Sayangnya, kali Ciliwung makin lama makin tak bersahabat. Jika hujan deras mengguyur kota seharian, banjir pun tak terelakkan.

Sebenarnya penyebab banjir bukan semata air yang meluap, terutama di pintu air
Katulampa Bogor yang jebol. Kultur masyarakat Jakarta yang suka membuang sampah sembarangan di kali pun menjadi penyebab utama timbulnya banjir. Atau...apakah ini merupakan dampak dari membengkaknya pertumbuhan penduduk di Jakarta ? Apakah kaum urban patut diusir atau direlokasikan ke tempat yang aman ? Nyatanya, hingga kini pemerintah belum menghasilkan solusi yang nyata untuk membenahi kota Jakarta terutama dari masalah banjir, selain mempersiapkan aneka perahu karet baru...

Friday, January 9, 2009

Patriotisme pada Palestina


Sungguh orang Indonesia itu amat patriotik…

That really surprized me! jika mereka memiliki rasa empati yang luar biasa atas nasib korban Hamas – Fatah. Di ibukota, demonstrasi tak henti-henti. Di berbagai daerah pun tak kalah ramai. Bagi beberapa pihak yang berkepentingan dalam ajang perebutan kursi pemerintahan mendatang, bahkan memanfaatkan moment ini untuk menarik simpati.

Yang paling lucu (menurut saya), adalah tindakan para patriotik tersebut memboikot produk-produk Amerika. – Bagaimana kalau mereka memboikot McD, KFC, dsb…? –

Jika mereka memboikot produk-produk yang langsung diimport dari Amerika, I think it could be tolerated… Namun jika mereka mengintimidasi produk-produk franchise, tidakkah terlalu berlebihan ? Bertindak tanpa pikir panjang…? -- bukannya karena saya terlalu sering mengkonsumsi produk fastfood tsb, looo --


Indonesia bukanlah negara maju setara Arab Saudi atau Perancis – apalagi Amerika – yang masih bisa berdiri di kaki sendiri meski kehilangan beberapa sumber-sumber penting. Apalagi dengan keadaan sekarang, dimana pengangguran mulai semakin banyak, kemiskinan merajalela, dan aneka ketidakseimbangan lainnya. Mau tak mau, kita harus menggunakan trik dan menyiasati keadaan.

Tanpa Amerika, posisi negeri kita tercinta ini agaklah sulit. Bukan lantas kita musti menjilat Amerika sedemikian hingga. Namun tak bisa dipungkiri, mau atau tidak mau, sebagai satu ekosistem dunia, semua seolah merupakan rantai kehidupan yang saling membutuhkan dan tak terputus. Indonesia tetap membutuhkan Malaysia, Belanda, Inggris, Arab, Palestina, bahkan Amerika. Demikian pula dengan mereka, yang membutuhkan Indonesia. Mengapa tak berdamai saja…?


Saya bukanlah pro Amerika – apalagi paman Bush --. Namun saya miris jika melihat beberapa tetangga saya pengangguran sedangkan ia menanggung istri dan ketiga anaknya. Saya sedih karena masih sering melihat banyak poor urban yang tidur dibawah jembatan atau di pinggir kali Ciliwung. Bahkan saya merana melihat diri saya sendiri yang masih belum beroleh kemapanan setingkat dengan usia saya saat ini….


Melihat keadaan akibat konflik Gaza, saya senang dan terharu ketika mendengar Indonesia memberikan bantuan kepada korban Gaza. Sebagai umat manusia yang bersosial, sudah sepatutnya saling membantu.

Namun geli juga ketika mendengar ada beberapa pihak yang ngotot ingin dikirim ke Gaza untuk bertempur menggusur Israel. Ah… kelebihan tenaga yang butuh penyaluran, ya… Nanti, sesampai disana, yang ada malah bikin runyam. Mereka bersedia mati membela Hamas, namun tak pernah berpikir lebih jauh, bagaimana kelangsungan urusan kenegaraan, baik dengan Palestina, Israel, maupun negara-negara lain. Pantas saja kalau pak SBY jadi pening mikirin rakyatnya yang terlampau patriotik… atau terlampau egois dan impulsif...?

Mereka merasa patut bersikap demikian dengan alibi pembelaan terhadap agama. Sesama muslim harus saling membantu dan melindungi—kalau perlu sampai titik darah penghabisan. Ancaman bagi satu muslim berarti ancaman bagi seluruh muslim lainnya -- .

Sebenarnya, mengapa pertempuran Gaza itu sampai terjadi ? Benarkah itu adalah perang antar agama ? Hamas pun belum tentu didukung oleh seluruh rakyat Palestina. Dan Fatah pun juga belum tentu salah 100%. Di Indonesia, muslim militan garis keras macam Amrozi dkk malah ditembak mati.


So…what is the real problem…?

Efek krisis global, buruh pengangguran meningkat tajam

Sebuah berita pagi mengabarkan bahwa 305 ribu TKI telah dipulangkan. Artinya, Indonesia akan terancam mengalami peningkatan jumlah pengangguran.

Repotnya menjadi negara dunia ketiga, tingkat kualitas profesional atau sumber daya warganya sebagian besar masih berada pada level rendah. Kita harus terpaksa puas jika penduduk Indonesia hanya bisa menjangkau tingkat pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga atau buruh pabrik rendahan. Akibatnya, seringkali jadi bulan-bulanan, pelecehan, dan diskriminasi. Apa daya…?

Kalaupun memberontak dengan berteriak, memprotes, berdemo, atau menggugat, nyaris sama halnya seperti kucing kecil yang dekil di selokan yang mengeong nyaring karena kelaparan. Who’s care…?

Seharusnya pemerintah lebih fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia supaya memiliki nilai jual yang layak di mata Internasional, menjadi profesional yang handal, dan tak hanya sekedar menjadi pembantu rumah tangga atau buruh rendahan saja.

Namun apa daya, bak makan buah simalakama, kondisi membuat semuanya jadi serba salah.

Inginnya meningkatkan sektor riil dalam negeri. Tapi apa daya, nilai rupiah terpuruk hingga sedemikian rupa. Setinggi-tingginya lokal memberi upah, tentu masih jauh lebih lebih tinggi upah di luar negeri — meski dengan pekerjaan yang hanya dipandang sebelah mata.

Sifat orang lapar, jalan pikirnya lebih pendek. Hal pertama yang terbersit, ‘asal dapat gaji gede, jadi prt pun tak masalah’. Lagipula, apa yang bisa diharapkan dari sekedar lulusan SD atau SMP… ?

Jika saat ini sudah ada program wajib belajar hingga 12 tahun, hal itu sudah merupakan salah satu solusi yang bagus. Namun persoalan lain yang dihadapi saat ini, bagaimana cara membuka atau mengubah paradigma konvensional masyarakat Indonesia kelas tradisional dan kelas bawah (yang justru sebagian besar) bahwa pendidikan itu sangat diperlukan, dan kualitas manusia dapat meningkatkan harkat martabat dan harga diri seseorang dan bangsa. –Perempuan tak harus kerja di dapur, dan wong mlarat pun sah-sah saja bermimpi menggapai bulan. Semua pasti ada jalannya, asal berusaha. Apakah etos bekerja keras sudah kita punyai ? — ingin mencari spirit, bacalah ’sang pemimpi’ Andrea Hirata.

Mengapa hanya puas sekedar bisa memamerkan punya rumah bagus dan harta benda melimpah pada tetangga sebelah setelah pulang dari Malaysia atau Arab Saudi ? Tidakkah menjadi ahli komputer di Amerika dengan penghasilan lebih dari $24000 dan disegani bule lebih menyenangkan dan membanggakan…?

But all the bright cake have the hard way...

Tuesday, June 3, 2008

Inspired on Inspiration ??

Era kompetisi yang makin bersaing ketat saat ini menuntut kita semua untuk selalu kreatif dan makin terasah meningkatkan kualitas diri. Why is it so ? Karena orang yang rajin pun kini belum tentu mendapat peringkat pertama, dan orang yang pandai sekali pun belum tentu mendapat prioritas utama.
adakalanya pula, orang yang sukses tak melulu dinilai dari harta kekayaan yang dikumpulkannya atau jumlah customer yang diraupnya. Orang yang mampu mengajak orang lain untuk bersikap kreatif, mandiri, mengentaskan masalah dan beban orang lain dan berbuat sesuatu yang berguna untuk lingkungan, serta mampu membawa aura berpikir positif, or at least membawa inspirasi positif bagi orang lain pun termasuk orang yang sukses.
Dan di jaman yang sudah demikian crowded n complicated, ternyata masih ada orang-orang sukses yang kesuksesan dan langkah-langkahnya membawa inspirasi positif bagi banyak orang lain. diantaranya adalah 30 orang yang diusung Hard rock fM untuk mendapat gelar The Most Inspiring People, diantaranya adalah Tompi, Nidji, Maliq & D 'Essentials, Agnes Monica, Dian Sastro, Bambang Pamungkas, Melaney Recardo, Olive, Fahrani, Richard Nisane, Joseph Sanyuf, Klenting, Lukman Gunawan, Nicholas Saputra, Taufik Hidayat, dan lain-lain.
Setidaknya, sepak terjang mereka memiliki arti positif ketimbang sekedar berkoar-koar memanaskan suasana demo BBM, turut pukul memukul dan saling lempar melempar demi nama 'solidaritas' dan anggapan 'nasionalisme' yang sebenarnya justru terdengar naif... Ada pula yang lebih senang menjadi kuda tunggangan bodoh para oknum yang memakai alibi agama dan nilai kereligiusitas untuk mendapatkan kemauan mereka (padahal... benarkah mereka 'benar-benar' beragama dan religius...?).
What in my mind is... lakukan apapun yang bisa kamu lakukan sepanjang itu dalam genggamanmu. Tunjukkan bahwa kamu brilliant dan bermanfaat, so... you're really worthed!
Penganugerahan itu dihelat di Hard Rock Cafe Jakarta, sekaligus perayaan ulang tahun Hard rock FM. Stenny Agustaf, Iwet Ramadhan, dan Pandji Pragiwaksono mengolah acara dengan banyolan mereka yang kocak dan segar. They're really talented guys n fresh minded, right ?
Acara juga dimeriahkan oleh unjuk gigi suara merdu Mike Mohede, Tompi, dan Nidji. -- saya sangat terkesan dengan kehebatan Tompi dalam mengolah suara dan nadanya..whew!! And also so surprised, ternyata vokalis Nidji langsung terlihat 10 tahun lebih tua jika rambut kriwulnya dikucir... hehehe... ---
para kru Hard Rock fm juga mendapat kesempatan tampil diatas panggung untuk bersulang wine.
Ternyata... para Hardrockers benar-benarrrr.... banyaakkkkkk!!!!
success for Hard rock FM!






















Monday, April 28, 2008

excited DJ Cream!!!!

Baru pertama kali tahu performance DJ Cream yang selama ini cuman denger namanya di Paranoia doang....
Ternyata.... Excellent Performance yaaa!!!!
Love the music!!!

Sunday, April 27, 2008

Lovely SHE band













Hari sabtu yang stres dan menyedihkan karena pekerjaan...
Tapi rupanya jadi sedikit terhibur setelah melihat band SHE (She and harmony Eclectic)manggung di Grand Indonesia. Band asal Bandung sejak tahun 2000 yang terdiri dari tujuh cewek ini; Achi (violin), Adisty (drum), Arnie (bas), Melly (lead vocal), Riry (gitar akustik), Qoqo (gitar elektrik), dan Yayo (keyboard) ternyata boleh juga...
Apalagi saat lagu terakhir dibawakan "slow down baby" --Oh my gosh! Dari dulu saya sangat familiar dengan lagu ini, tapi baru tahu sekarang kalau penyanyinya adalah SHE.

Namun album pertama mereka baru launch tahun 2005 lalu dengan judul Tentang aku, kamu dan dia. Dan Album kedua, bertajuk tersenyum lagi, dibawah naungan label Sony BMG Music Entertainment Indonesia.

Soal penampilan waktu itu, saya merasa agak aneh aja dengan dandanan Melly yang sengaja ambil tema tabrak warna. Dress warna biru, stocking kuning, sepatu pink elektrik, anting pink, hingga rok berenda warna hitam yang dipakai di dalam dressnya. Benar-benar made in Bandung , tapi tampak tak mengedepankan eksklusifitas.
Saya justru apreciate dengan penampilan Qoqo yang mengenakan kemeja, dasi, dan sepatu boot hitamnya. Harajuku style, tapi cukup mengena dan cocok. APalagi dengan wajahnya yang memang berkesan orientalQoqo merupakan anggota SHE yang paling bungsu, bukan hanya dari sisi usianya yang paling muda, namun ia juga merupakan anggota yang terakhir bergabung.

Qoqo merupakan anggota SHE yang paling bungsu, bukan hany
a dari sisi usianya yang paling muda, namun ia juga merupakan anggota yang terakhir bergabung. Qoqo menggantikan posisi Kika yang terpaksa meninggalkan SHE karena telah menikah dan pindah ke Finlandia. Dengan tetap mengusung aliran musik pop, nuansa rock di album ini terasa lebih kental dengan sound distortion dan permainan gitar yang dominan. Selain itu, SHE lebih berani dalam eksplorasi lagu, terbukti dengan keberanian dan kekreatifan mereka dalam mengaransemen sendiri beberapa lagu di album ini, salah satunya adalah single pertama mereka, Slow Down Baby.

Wednesday, April 16, 2008

Jakarta, oh Jakarta....

Sudah beberapa kali saya mendapat pertanyaan "bagaimana rasanya hidup di Jakarta? Seperti apa sich Jakarta itu?" dari beberapa rekan saya yang TIDAK tinggal di jakarta. Mungkin karena mereka sedang mempertimbangkan diri untuk mengikuti jejak saya menjadi urban di jakarta, atau sekedar ingin mendengar kisah dan cerita saya tentang Jakarta, terutama setelah sekian lama (sebenarnya tak terlalu lama) tinggal di jakarta.
Entah mengapa mereka menanyakannya pada saya... mungkin karena menganggap bahwa saya paling lihai dan cermat dalam menelusuri dan meresapi setiap sudut dan kisi-kisi ruang dan makna kehidupan sebuah kota... (hehe... terlalu berlebihan ya...)
Dan saya selalu menahan nafas dengan mata berbinar ketika hendak menjawab pertanyaan tersebut, seolah tiba-tiba otak dan benak saya terbanjiri oleh ribuan kata dan ekspresi yang berdesakan untuk segera disemburkan keluar. Namun bibir saya begitu kecil, tak sanggup menahan ketidaksabaran kata-kata itu, supaya dapat meluncur dengan rapi dan indah serta meyakinkan. BEING SPEECHLESS...

What a wonderful life!!! Mungkin itu satu-satunya kalimat yang cukup mewakili sebagai garis besar dari sekian komentar dan ekspresi saya tentang hidup di Jakarta. Masuk dalam kategori wonderful karena kevariasiannya yang luar biasa kaya, jika dibanding dengan kehidupan di kota lain di Indonesia. Yaa... setidaknya saya memiliki 3 referensi yang bisa saya bandingkan dan telaah.
The real metropolis is over here. Mulai dari metro dept. store hingga metro mini, Jakarta benar-benar menawarkan kelengkapan. Tak heran jika banyak orang berbondong-bondong mengisi celah-celah Jakarta dengan membawa segudang harapan, selain spekulasi. Tentu saja spekulasi, karena Jakarta tak hanya menawarkan keberhasilan, kesuksesan, dan kebahagiaan. Namun juga menghidangkan kemerosotan, kegagalan dan kepedihan yang tak terperi. Nasib manusia bisa direncanakan, namun siapa yang bakal tahu hasil akhirnya... ?
Karena manusia yang datang bertambah banyak, Jakarta jadi penuh sesak. (pun tak ketinggalan dengan partisipasi saya yang turut menyesaki Jakarta hingga tambah pengap). Akibatnya, jalanan jadi padat dan macet. Namun kewajiban dalam pekerjaan dan urusan bisnis tak ada kompromi. Tetap saja berdesak-desakan di jalan yang sudah semakin sempit. Daripada tak dapat uang atau dimarahi bos??? Jadi... wajar saja jika warga Jakarta selalu terlihat terburu-buru dan rentan stress. Saat awal kedatangan saya di Jakarta, saya sempat terheran melihat orang-orang yang berjalan begitu cepat dan tergesa di shelter busway dengan tatapan lurus dan kaku tanpa hirau sedikitpun dengan lingkungan di sekelilingnya. Namun semakin lama, ternyata saya pun juga menyerupai mereka... Waktu begitu berharga dan menentukan, dan kita tak ingin menyia-nyiakannya begitu saja di jalanan. Tampaknya motto "siapa cepat dia dapat" cukup berlaku disini. Terlalu banyak manusia yang berebut kesempatan yang tak seberapa banyak. Saya pun mengerti, kenapa di Jakarta orang menjadi 'darah tinggi' saat di jalanan. Angkutan umum menggeloyor dan menerabas dengan begitu buas. Pak sopir jadi panas mendengar gerutuan para penumpang yang mengomel karna tak lekas sampai. Motor tak mau kalah karena merasa diri lebih ramping dan lebih kecil, hingga bisa menerobos sana sini. (Padahal semua motor berpikir demikian...akhirnya yang terjadi adalah saling menyerobot dan kocar-kacir). Belum lagi asap knalpot yang bikin sesak dari bus-bus yang sebenarnya sudah tak layak pakai, namun dipaksa beroperasi karena melihat kesempatan dari banyaknya penumpang yang bahkan rela bergelantungan saat jam-jam pulang dan berangkat kerja. Aturan gas emisi sudah mulai tak digubris karena tren nya sudah habis. Nyawa di jalanan seolah tak ada harganya, kapanpun bisa melayang dengan begitu mudahnya, semudah bernafas dan membuang kentut.
Walau begitu, aneka mobil mewah mengkilap dengan bodi besar yang dilengkapi dengan TV dan home theatre ternyata tak kalah banyak, menandakan begitu banyaknya orang kaya yang hidup di Jakarta.
Dan semakin lengkaplah pemandangan Jakarta dengan partisipasi para pengemis yang membawa bayi, yang memutilasi salah satu bagian tubuhnya, hingga para pengamen yang berpenampilan eksotik bak Bob Marley dengan rambut gimbalnya. (Ups... dan lagu-lagu dan suara yang mereka bawakan cukup berkualitas, lho...). Mereka semua berkompetisi demi sekeping logam untuk makan, rokok, atau menghisap ganja kering. Pedagang asongan pun tak mau kalah. Mulai dari sekedar menjual tahu sumedang, stiker spiderman, alat cukur, hingga kitab esek esek dengan harga gila yang kita bahkan tak habis pikir, 'kalau dijual segitu, dapat untungnya darimana???'
Itulah Jakarta, dengan kehirukpikukannya yang pekak. Eh, tapi di kota lain pun menyajikan pemandangan serupa. Surabaya tak kalah macet dan polusi. Namun, siapa lagi yang menawarkan pemandangan spektakuler dari barisan gedung pencakar langit di kawasan SCBD dengan bentuk-bentuknya yang unik, jalan raya yang melingkar dan bertingkat-tingkat, patung-patung dan taman-taman terawat, sistem three-in-one, hingga kesibukan kereta api yang tak pernah henti. Saya rasa, hanya Jakarta yang punya untuk sementara ini...

Jakarta memiliki beragam kesibukan yang variatif, karena hampir semua bidang yang ada di Indonesia memiliki pusat di Jakarta.
Menjadi demikian, karena pusat pemerintahan terletak di Jakarta. Istana negara yang kokoh dan anggun bersemayam di Jalan Medan Merdeka. Gedung kura-kura, tempat berteduh para wakil rakyat terletak di Senayan. saat pertama kali saya menginjakkan kaki di gedung yang merepresentasikan simbol lingga yoni tersebut, kaki saya sempat dibuat pegal karena ruang area yang begitu besar, luas, dan tinggi. Aroma parfum mahal bertebarandari setelan jas eksklusif dan tubuh para asisten pribadi yang molek tak pernah berkeringat. Dan ruang kerja mereka amat sangat nyaman!!! Sofa empuk, AC dingin, dan karpet yang senantiasa bebas debu. Anda bisa membayangkan, betapa luasnya gedung tersebut dengan banyaknya ruangan seperti itu yang diperuntukkan bagi hampir 500 orang wakil rakyat! Belum lagi ruangan yang lain... Dengan ruangan sebanyak itu, jumlah orangnya pun tak kalah banyak! Dari yang memang bekerja dan berkantor disitu, para security, para tamu, para pemburu sumbangan dari daerah, para sales yang menyelinap, dan masih banyak lagi yang lainnya. Tak heran jika tak ada yang dispesialkan disana. Bahkan para Gubernur daerah yang berkunjung akan sekedar menjadi rakyat jelata, ikut berdesakan di dalam lift, dan tak dikenal! (Hiks...padahal di daerahnya ia begitu disanjung dan dielukan...)
Hanya mereka yang duduk di kursi parlemen yang merasa paling eksklusif. Entah karena posisi jabatan mereka, kebersahajaan penampilan mereka, atau keintelektualan tutur bahasa mereka yang cerdas. Yang jelas, secara kasat mata, mereka memang cukup pantas memasang pin tanda DPR RI pada jas mereka. Dan semakin eksklusif lah mereka dengan aneka kesibukan rapat yang tiada habis, tugas studi banding ke negara A hingga Z, sampai masa reses yang dihabiskan di luar kota. Lobi dan siasat partai pun tak henti-hentinya diadakan, entah itu di hotel yang luar biasa mewah dan gemerlap atau di rumah makan yang menyajikan makanan yang bahkan menunya susah diucap. Jika melihat itu semua, mudah sekali menyimpulkan bahwa mereka adalah golongan teratas dengan etika yang bersahaja, amat jauh dari barbar. Namun... adakalanya saya begitu terheran-heran ketika melihat mereka saling gontok mengepalkan tangan, gebrak podium, hingga naik meja saat suasana panas di ruang sidang... Apakah karena khilaf, atau perilaku asal...?
Yak! Merekalah yang merencanakan, menimbang, dan menggodok berbagai undang-undang yang mengatur masyarakat Indonesia. Namun jika saya pikir-pikir, saya jadi sangsi, apakah mereka benar-benar tahu dan mengerti, hal-hal apa saja yang patut dan cocok diterapkan pada masyarakat di seluruh lapisan, mengingat keeksklusifan dan kesibukan mereka yang tak sederhana dan tak tersentuh. Bagaimana bisa berempati jika tak bisa melihat sendiri sebuah keluarga yang tak memiliki rumah karena bangkrut menjadi pedagang asongan, terkena penggusuran, hingga akhirnya menggelar koran di salah satu sudut pelataran masjid Istiqlal yang megah -- kini sudah dijaga oleh banyak satpol PP--, sekedar mengharap sedekah. Bahkan salah satu sisi trotoar stasiun Juanda pun kini nyaris seperti tempat pengungsian dengan keluarga papa yang berderet tak terganggu. Belum lagi gubuk-gubuk reot dan kumuh di pinggiran sungai Ciliwung yang tergenang karena sampah. Anak-anak pemulung yang enggan sekolah dengan alasan lebih senang membantu orang tua cari uang.
Dan kesemarakan Jakarta semakin lengkap dengan kehadiran 'mahluk paling seksi' yang terpaksa mengeksploitasi diri karena himpitan ekonomi atau hanya karena sebagai hobi pengisi waktu luang yang membawa hasil! -- atau karena suatu aktivitas yang lambat laun menjadi suatu kebutuhan, layaknya orang makan nasi dan minum air...???--

Namun penampilan tak lagi milik Pekerja Seks Komersil. Kaum socialita dan eksekutif berlomba menghias diri. Apalagi Jakarta menyediakan kelengkapan yang tiada dua, yang bisa didapat di dept. store elit bergengsi yang menghadirkan gerai-gerai dengan harga rata-rata enam digit bahkan lebih. Sampai aneka barang second hand yang diobral di pasar senen yang becek, banyak ojek, sesak, dan berbau apek. Semuanya gila belanja, dari yang golongan A+ hingga golongan pas-pasan, saling tak mau kalah. Yang punya kemampuan bisa puas dengan menjinjing barang-barang ber-branded asli dari Itali atau Milan. Namun yang pas-pasan tapi 'maksa', harus cukup puas dengan imitasi yang tak kalah keren, atau buatan Garut, Tasikmalaya, dan paling wah buatan Bandung. Tak lagi bisa disangkal, bahwa Indonesia termasuk negara yang sangat konsumtif -- sekaligus plagiat nomor satu, sekaligus penggemar hasil karya plagiat!. Itulah mengapa pembangunan mall-mall dan fasilitas komersil lainnya tak pernah berhenti... -- Masih ada sekian mall yang masih dalam taraf pembangunan yang kejar deadline.

Itulah Jakarta, dengan kehidupan glamor yang menyukai pesta dengan aneka wine beraroma pekat manis masamnya, penampilan fashionable yang tak kalah dengan Paris dan New York, iringan musik jazz yang chill out, dan wajah-wajah rupawan tanpa cela berkat keberhasilan salon, spa, dan rumah kebugaran.
Itulah Jakarta, dengan denyut nadi yang tak pernah henti, dari pagi hingga pagi lagi. Kehidupan malam pun menawarkan banyak variasi. Tempat hiburan berlomba dengan aneka promosi; dari yang buy one get one free, ladies night, hingga happy hour. Suguhan plus-plus pun memperpanas persaingan bisnis. Perkembangan musik modern techno pun semakin kreatif, sehingga tak akan lengkap jika tak dinikmati bersama ekstasi dan brandy. Menu pelengkap, tentu saja aneka methamphetamin yang semakin mendapat tempat.

Itulah Jakarta, dengan rumah-rumah dan jalan yang tergenang kala musim hujan datang. Bangunan yang saling berdempetan tanpa celah. Mini party tengah malam yang diadakan disamping terminal, menyuguhkan musik dangdut yang membahana, diiringi joget asik para sopir angkot dan keneknya, plus para bencong menornya. Perselisihan sengit hanya karena memperebutkan lahan kosong di bawah jembatan tol demi tempat untuk tidur. Copet yang semakin lihai, maling yang semakin berani, hingga perampok yang semakin nekat.

Tawa dan tangis Jakarta pun teramat beragam. Tangis karena PHK, tangis karena kegagalan proyek, tangis karena perselingkuhan, tangis karena penggusuran, hingga tangis karena merangkum semua kepedihan yang ada. Tawa karena naik jabatan, tawa karena berhasil memperdaya orang lain, hingga tawa karena mensyukuri segala yang pernah diterima.

Namun Jakarta tak hanya hanya milik mereka yang pragmatis dan yang komersil -- apalagi yang kapitalis murni. mereka yang mengaku berbudaya dan berkesenian pun mendapat tempat. Komunitas yang tak terusik semakin asyik dengan aneka kesibukan dan kegiatan yang menyenangkan. Mereka yang kreatif, kontemplatif, hingga yang sekedar pasif, turut larut dalam euforia sebuah kreasi. Tak heran, jika Jakarta pun menawarkan segudang pilihan hiburan dan pertunjukan, dari yang paling ringan, hingga yang sangat berbobot. Dari yang paling mahal, hingga yang bisa dinikmati secara cuma-cuma. Semuanya terakomodasi dengan baik. Tak heran pula jika para seniman elit maupun seniman bohemian senantiasa bergairah untuk selalu kreatif. Seni tak hanya milik mereka yang yang membawa botol bir kesana-kemari. Seni tak hanya milik mereka yang mengobrol dan berdiskusi asyik di cafe eksotik. Dan seni tak hanya milik mereka yang menampilkan tarian Darwis dengan beberapa iringan alunan ayat suci yang mengagumkan. Seni pun tak hanya milik mereka yang memamerkan karya di deretan galeri Kemang atau museum. Seni tak hanya milik mereka yang melaunching karya mereka di hotel berbintang atau cafe mewah. Seni tak hanya milik mereka yang beratraksi di pelataran senayan atau taman menteng. Dan seni tak hanya milik topeng monyet yang berlagak di gerbong kereta ekonomi jurusan kota - bogor atau atraksi kuda lumping di pasar senggol Grogol...

Sungguh sebuah perkembangan yang luar biasa! Lingkungan dan situasi yang semarak hanya ada di Jakarta. Semua sisi kehidupan memiliki rel-rel sendiri. Dan semua itu, tak lain juga karena andil aneka informasi yang deras dan meluber. Perkembangan jaman dan modernitas melebur dalam informasi. Orang-orang berlomba mengikuti arus informasi. Ucapan Tantowi Yahya dalam sebuah iklan koran pun menjadi sindiran yang cukup mengena. Membaca tak hanya milik kaum intelektual berdasi dan berkacamata. Bahkan sopir bajaj dan tukang sapu jalanan pun selalu meluangkan beberapa waktunya untuk sekedar mengintip berita terkini saat menanti lampu merah berganti.

Dan seiring dengan perkembangan dan kemajuan yang demikian, maka konsekuensi pun tak lagi ringan. Karena pengetahuan yang semakin meningkat, tuntutan yang semakin tinggi, dan kebutuhan yang semakin banyak, muncullah beberapa indikasi. Kebanyakan, anak-anak yang tinggal di Jakarta menjadi lebih dewasa (atau kebablasan...???) ketimbang anak yang tinggal di daerah. Degradasi mental pun seringkali menjadi persoalan tersendiri. Saling menusuk dan menelikung dalam persaingan bisnis tak lagi menjadi bahan cela. Pemanfaatan aset kerja untuk kepentingan pribadi pun dianggap toleransi. bahkan pemenuhan nafsu biologis tak lagi menjadi sakral dan eksklusif. Yang berpikiran praktis, one night stand cukup jadi hiburan. Yang peragu, hubungan tanpa komitmen dianggap sebagai jalan keluar. Dan yang konservatif, kawin kontrak dengan alibi nikah siri atau nikah mut'ah dianggap sebagai pemecah masalah.

Jakarta, dengan kehirukpikukannya yang padat tak selalu membuat kening berkerut. Lagi-lagi berkat arus informasi dan kemajuan jaman, pun meretaskan kesadaran positif dari sejumlah orang yang tak bisa dikatakan sedikit. Para philantropist berlomba membantu sesama saat bencana. Ajang positif pun seringkali digelar. Mereka yang beragitasi soal konservasi hingga korupsi tak pernah kering bahasa untuk memprovokasi -- dan tak kehabisan sunblock untuk rela berpanas-panas di bundaran HI di sisi pancuran. Komunitas keagamaan hingga mereka yang peduli pada keberagaman semakin cerdas dan berkembang.

Itulah Jakarta, dengan kesemarakannya yang begitu berwarna. Tak hanya melulu pekat seperti asap knalpot, namun juga memiliki bias pelangi yang indah.
Semoga cerita saya cukup mewakili, sebagai jawaban atas pertanyaan;
"Seperti apa sich kota Jakarta / hidup di Jakarta itu ?"

Namun demikian, masih banyak sisi lain Jakarta yang belum saya ketahui. Dan tentunya, masih banyak cerita jakarta yang mungkin lebih seru dari yang sekedar saya sampaikan. Mungkin... jika saya mendapat tambahan informasi baru, saya akan kembali menceritakannya pada Anda...

Monday, March 3, 2008

SUPERMAN

I can't stand to fly
I'm not that naive
I'm just out to find
The better part of me
I'm more than a bird:I'm more than a plane
More than some pretty face beside a train
It's not easy to be me

Wish that I could cry
Fall upon my knees
Find a way to lie
About a home I'll never see

It may sound absurd:but don't be naive
Even Heroes have the right to bleed
I may be disturbed:but won't you conceed
Even Heroes have the right to dream
It's not easy to be me

(Song by : Superman - Five for Fighting)

Tak selamanya manusia hebat menyenangi dan menikmati kehebatannya...
Bahkan Seorang Superman pun perlu merasakan 'jatuh terperosok, atau tersangkut ranting kering berduri', berdarah, memar, dan sekarat,

Untuk melengkapi keindahan hidupnya
Untuk melengkapi warna hidupnya
TO BE THE GREAT MAN...

-- Mudah untuk mensyukuri nikmat dan sukses yang diraih/diberikan, Namun mengapa TIDAK MUDAH untuk mensyukuri luka dan pedih yang dirasakan...???--

Monday, February 18, 2008

NIGHT LIFE in a BRIGHT LIFE...







Mengapa kaum papa menjadi iri pada kaum hedonist...?
Adakalanya kaum hedonist juga merasa iri pada kemesraan sepasang pemulung yang dilanda kasmaran...
The important thing is not where you place your feet, but where you place your heart...

-- Kehidupan itu serba ironi, kenapa tak menyemarakkannya saja...? --

Resensi Film: XL (Antara Aku, Kau dan Mak Erot) -- DOES SIZE MATTER ?




Ini adalah film tentang seseorang yang selalu merasa rendah diri karena kekurangan fisiknya, padahal sebenarnya dalam sebuah hubungan antara pria dan wanita yang terpenting sebenarnya rasa cinta," ujar sutradara sekaligus penulis naskah XL, Monty Tiwa.

Tiga sahabat sejak SMU Deny (Jamie Aditya), Stevan (Eron LeBang) dan Juno (Alex Abbad) kembali dipertemukan setelah 11 tahun berpisah. Mereka saling bertukar kisah, cerita dan pengalaman hidup. Namun disini Monty Tiwa lebih menekankan permasalahan Deny, yang kemudian menjadi topik inti permasalahan cerita.

Deny, seorang pribadi yang lugu, kalem, selalu memiliki perhatian dan rasa empati yang besar pada keluarganya menjadi tak berdaya ketika dihadapkan pada keputusan harus menikahi Vicky (Dewi sandra), seorang dokter dan anak calon bupati yang sebenarnya telah hamil 2 bulan tanpa ayah yang jelas. Perjodohan orang tua ini tentu saja sarat dengan perbisnisan, sebuah simbiosis mutualisme untuk menyelamatkan kualitas hidup keluarga Deny sekaligus nama baik keluarga Vicky. Namun masalah yang menjadi ganjalan Denny bukanlah karena Vicky seorang hyperseks (siapa yang sanggup menolak seorang gadis yang cantik, menarik, pintar dan kaya...???), namun lebih disebabkan karena ’cacat’ fisik Deny; yang merasa bahwa ukuran alat vitalnya terlampau kecil (tidak sesuai dengan permintaan Vicky yang ’hot dan panjang’) sehingga gagal memenuhi kriteria Vicky sebagai mesin seks.
Menghadapi situasi demikian, kedua sohibnya yang konyol dan gokil itu malah membuat permasalahan tersebut sebagai ajang taruhan 1 milyar. Jika Denny berhasil ’memenuhi permintaan Vicky’, Juno akan mendapat 1 milyar. Namun jika sebaliknya, Stevan lah sang pemenang.

Dari sini, perjuangan dimulai. Adegan-adegan kocak bergulir, semenjak Deny dkk. Mengunjungi Mak Siat (Sarah Sechan) yang mengaku sebagai keturunan Mak Erot, hingga keterlibatan Deny dengan seorang ’pecun’ bernama Intan (Francine Roosenda) yang disewa khusus sebagai ajang praktek ’appraisal’ sebelum Deny menjadi mesin seks bagi Vicky. Hingga sampai pada akhir cerita yang, boleh dikata bisa ditebak dan diharapkan penonton – nyaris happy ending story.

Jika ingin mencari film yang segar, kocak, dan ‘easy watching’, XL cukup bagus untuk ditonton. Setting cerita yang dibuat oleh Monty Tiwa menyajikan kehidupan Urban dengan hiruk pikuknya. Come on, it’s being cosmopolit…!!!

Namun, ada sekian ganjalan yang menyertai film ini.
Walau bagaimanapun, sebuah film (yang notabene) bisa dianggap sebagai media yang juga ‘menyampaikan informasi’ terasa kurang patut jika mengetengahkan adegan yang tidak mendidik.
It’s really not a good example!!!
Wow, apakah memang sudah jamannya untuk memberikan tayangan vulgar yang tidak mendidik ? – nyatanya hal-hal seperti itu sudah terlanjur dianggap biasa...--
Remaja yang masih duduk di bangku SMA sudah biasa ’main’ pecun!
Film ini menggambarkan sebuah era dimana seks sudah tak lagi menjadi hal tabu untuk dilakukan secara terang-terangan.
Apakah tayangan pada film ini sedang menunjukkan degradasi mental generasi muda atau malah justru berniat memicu hasrat untuk melakukan hal yang dianggap ’modern’ dan ’tren’ di jaman sekarang ?

Penggambaran wanita-wanita yang –cukup disebut tanpa beban sebagai ’pecun’ atau pelacur-- dibeberkan. Sementara pelaku atau penikmat adalah laki-laki yang menjadi pemeran penting. Jelas sekali terlihat, bahwa perempuan ditampilkan sebagai sosok komoditi.
Terasa sekali dengan muatan konsep patrialkal. Lepas dari tokoh utama adalah laki-laki, gambaran sosok perempuan yang tersaji lebih banyak memposisikan perempuan sebagai objek atau pelengkap sekunder.
Intan dan para pelacur lain hadir untuk ’melayani’ tokoh utama, meski diselipi bumbu-bumbu adanya keterlibatan perasaan yang pelik.
Begitu pula dengan gambaran istri Stevan yang patah arang karena suaminya seorang bajingan, semakin menunjukkan bahwa perempuan seringkali merana.
Dan semakin lengkaplah ’penderitaan’ dan kekonyolan perempuan ketika Intan mengungkapkan latar belakangnya sebagai pelacur hanya karena keheroikannya atas nama cinta, demi menyelamatkan sang suami yang telah almarhum.
Jika pada akhir cerita Deny memutuskan untuk memilih Intan, apakah itu dianggap sebagai sebuah excuse dari keterpurukan perempuan yang selalu menjadi the second sex ?

Meski begitu, film ini cukup memberikan gambaran realistis tentang kehidupan jaman sekarang.

Sayangnya, Pemeran XL terasa kurang pas. Jamie Aditya dkk dirasa tak lagi pas memerankan anak SMA, meski kumis dan jenggot telah dicukur habis sekalipun. Walau bagaimanapun, guratan wajah sukar untuk dimanipulasi. Ataukah dikarenakan orientasinya mengarah pada babak setelah 11 tahun kemudian ?
Dan Mak Erot yang diperankan oleh Sarah Sechan juga terasa kurang pas. Harapan penonton, mak Erot diperankan oleh sosok yang hampir mendekati kemiripan fisik dan stereotypes seperti mak Erot. Kekocakan yang ditampilkan pun menjadi kurang greget.

Tuesday, January 29, 2008

Soeharto... Mengapa Kontroversi ?



Setangkai bunga bangkai yang berbunga paling busuk jatuh lunglai, kemudian gugur ke tanah.
Perlukah kita menginjak, meludahi, atau bahkan membakarnya ?
Puaskah batin Anda memusnahkan wujud bunga yang telah mati dengan segala kebengisan ?
Takutkah Anda mencabuti rumput pengganggu yang tumbuh subur, menghijau, baru menunas dari dalam tanah ?


Pak Harto telah wafat.
Saya mendengar beritanya pukul 13.30 WIB melalui sebuah siaran radio yang mengabarkan bahwa mantan presiden RI, H. Moh. Soeharto telah wafat pada hari minggu 27 januari 2008 pukul 13.10 WIB di RSPP.
Sesaat setelah mendengar berita duka tersebut, saya tak dapat membendung perasaan untuk kemudian menitikkan beberapa bulir air mata yang tak penting. (Suatu hal yang juga pernah saya alami ketika mengetahui berita pesepakbola Maradona saat terjerat kasus doping, musibah gempa jogja, dan peristiwa bom Bali 2). Entah mengapa hati saya larut dalam melankoli, padahal mengenal beliau pun tidak. Saya pun tak pernah bersinggungan dengan beliau. Tak bermasalah, namun juga tak terlalu merasakan nikmat pada masa kejayaannya (masih terlalu muda untuk menyadari, atau karena ketidakpedulian saya pada lingkungan sekitar...?)-- atau malah justru karena itu kah perasaan saya mudah larut dalam suasana ?

Saya turut berduka cita secara mendalam pada Pak Harto...

Jika saya ditanya mengapa, I don't know why...
Tidak semua rasa bisa diungkap secara verbal. Saya hanyalah manusia biasa yang dianugerahi pikir dan perasaan. Saya pun hanya sekedar mengikuti naluri dan nurani. Naluri sebagai mahluk Tuhan yang paling lemah... Dan nurani sebagai manusia yang lebih banyak mengandalkan perasaannya...

Mungkin ada banyak sekali orang seperti saya.
Terbukti dengan upacara pemakaman dan penghormatan terakhir yang padat dan besar-besaran. But I think it's okay, guys...
Saya menyukai keindahan. Keindahan selalu berdampingan dengan ketenangan, kedamaian, dan kenyamanan --meski tampak paradoks sekali jika sebuah moment kematian diiringi oleh gegap gempita kemewahan yang semarak. Sebagai manusia yang berbudaya (sekaligus beradab...), menghormati kematian dengan cara yang indah adalah lebih baik ketimbang menanggapinya dengan umpatan, sumpah serapah, dan hati beku yang membatu. Jikalau prosesi kematian Soeharto dibuat sedemikian mewah, itu adalah hak dan kebebasan orang-orang yang 'memperingati'nya, sepanjang tidak ada paksaan dan merugikan pihak lain. (Jika tak berimbas secara negatif pada Anda, mengapa musti sewot ? Merasa iri-kah...? )Mengekspresikan rasa adalah hak asasi setiap mahluk Tuhan.

Namun saya juga melihat dan mendengar dari beberapa milis, blog, dan beberapa media yang justru masih 'keukeuh' menghujati dan mencemooh Soeharto. Mereka menanggapi kematian Soeharto sebagai bahan anekdot yang satir dan miris.
Sampai-sampai saya berpikir, sebegitu benci-kah mereka dengan Soeharto ?
Sebegitu sakit hati-kah mereka dengan Soeharto ?
Apakah segala keburukan dan kebobrokan Soeharto di masa silam telah menjadi borok bernanah bagi para penderita diabetes ?
Sampai-sampai tak ada rasa maklum, simpati, respect, apalagi maaf....

Jujur saja, semenjak Soeharto masuk rumah sakit dan melewati masa krisisnya, saya sudah merasa prihatin dengan beliau. Seorang laki-laki penuh kuasa dan berjaya lama itu telah lanjut usia. Berjalan pun tak lagi setegap dulu. Bernafas pun memerlukan bantuan selang. Apalagi untuk melihat televisi dan media cetak sekedar mengikuti perkembangan bangsa... He's almost dying!!!
Namun ironisnya, banyak sekali orang sibuk diluar sana. Sibuk mempersiapkan demo menuntut Soeharto atas praktek KKN. Beberapa ada yang begitu berapi-api menguliti kebobrokan Soeharto dan merasuki jiwa-jiwa kosong yang masih sedang memilih arah. Beberapa, dengan penuh percaya diri, meramalkan kematian Soeharto pada hari jumat. Bahkan ada yang telah mengibarkan bendera setengah tiang, padahal Soeharto masih bernafas dengan terbata-bata.
Sebenarnya, siapakah mereka-mereka ini ???? dan mengapa mereka-mereka ini???

Mungkin, mereka yang menaruh kebencian mendalam dan dendam kesumat pada Pak Harto adalah orang-orang yang pernah bersinggungan langsung dengan beliau. Mereka adalah korban langsung kekejaman Soeharto di masa silam. Mereka tak pernah mengenal Soeharto, apalagi mereguk buah nikmat dari kepemimpinannya. namun sekalinya bersinggungan malah terpukul masalah yang runyam dan berakibat fatal.
Mungkin mereka adalah keluarga dekat korban pembantaian rezim Soeharto.
Mungkin mereka adalah para tahanan politik yang disiksa tak manusiawi. Dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang lain.
Yah...wajar saja, dan mungkin juga bisa dimaklumi...Manusia terlalu lemah untuk meredam kebencian dan dendam di hati mereka.
Saya pun juga demikian...masih menyimpan kebencian yang prinsipil pada beberapa orang yang telah menyakiti saya... (secara prinsipil pula...)
Namun ketika orang yang teramat kita benci telah mati, apakah kita masih akan terus menghujam kesalahan-kesalahannya, menuntut dan mengadilinya ?
Ah...lucu juga, ya... jika kita masih merasa kepanasan oleh urusan duniawi yang menuntut pertanggungjawaban, sedang orang yang kita tuntut, kita hujat, dan kita maki, sudah beranjak ke dunia akherat.
Alangkah bertepuk sebelah tangannya, kita!!!
Mengapa tak bisa ikhlas melepas kepergiannya ? Mengapa masih terus mengulik luka seseorang yang tak lagi berada di dunia kita ? Manfaat apa yang diperoleh ? Hanya sekedar kepuasan batin kah ?
Barulah kita menyadari, mencoba berbesar hati adalah hal terberat bagi manusia lemah...
Atau karena terlalu sok untuk bisa mengungguli Tuhan yang punya perhitungan sendiri...?

Dan golongan lain yang mengembangkan kebencian berspora adalah golongan yang tak jelas. Saya sebut demikian karena saya sendiri tak bisa mendefinisikan mereka, yang jelas bukan termasuk golongan yang pertama saya sebut.
Mereka adalah jiwa-jiwa kosong yang sibuk menentukan arah dan orientasi. Mereka adalah jiwa-jiwa bimbang yang merasa lebih prestigius dengan memilih sikap, -- antara membenci dan menyanjung -- dalam konteks ini, mereka merasa menjadi lebih idealis dengan jalan mengerutkan kening pada Soeharto. Mereka bukan siapa-siapa yang pernah bersinggungan langsung terkait masalah Soeharto. Kalaupun tiba-tiba merasakan ketidaknyamanan karena ulah Soeharto, itu pun hanya sekedar imbas tak langsung yang mereka rasakan karena telah berpikir secara keras dan -- mereka anggap kritis.
dan satu lagi... mereka tak memiliki empati, mengandaikan diri jika berada pada posisi Soeharto di masa kejayaannya...

Seklaipun tak pernah terbersit imajinasi dalam khayali mereka, bahkan seorang yang selalu bersikap bijaksana dan idealis pun akan banyak menimbang-nimbang jika dihadapkan pada setumpuk harta yang menyilaukan!
Eh, bukan berarti saya menghalalkan ulah Soeharto, lho... Tapi itu manusiawi man... Kalau kebaikan melulu, berarti malaikati...kalau keburukan melulu, berarti setani... Betul, nggak ?
Dan mereka yang termasuk dalam golongan kedua ini adalah orang-orang yang mudah untuk dipengaruhi. Gampang terprovokasi (apalagi yang memprovokasi adalah pihak dari golongan pertama...). Jiwa mereka yang muda dan semangat mereka yang terbakar lebih senang dengan huru hara dan keriuhan yang membahana. Mereka merasa gagah dengan bara yang menyala. Mereka bicara dengan sangat lancar dan berapi-api ketika menguliti kebobrokan dan kebengisan Soeharto. Namun kata-kata yang mereka luncurkan tak lebih dari berbagai kutipan dari sekian orang atau orang kesekian, dari pemikiran mereka yang instan namun dianggap kritis, dan pengetahuan dari bukti-bukti terpapar yang enggan mereka telusuri asal muasal dan sebab musababnya. Mereka masih terlalu muda untuk memiliki orientasi yang didasarkan dari hati nurani mereka sendiri. Hati mereka telah tersingkir, mendekam di suatu relung tersembunyi, hingga dianggap tak lagi ada.
Tanpa mereka sadari, mereka membuka kran kemudahan untuk ditunggangi dengan oknum-oknum yang ingin berperan dengan rakus dan tamak. -- Tapi para 'kuda tunggangan' itu tak tahu apapun selain jalan lurus dihadapannya... --

Bagaimana dengan Anda ?
Apakah Anda adalah seorang berakhlak mulia, bermoral tinggi, berbudi pekerti, yang masuk pada golongan kedua ?
Apakah Anda adalah seorang hakim alam dan semestanya, sehingga yakin 100% bahwa penilaian Anda yang buruk dan tak manusiawi adalah penilaian yang paling sah, benar dan pantas...?
Pasti kali ini Tuhan terlalu banyak menganggur, karena wewenangnya sudah banyak yang diambil alih... Mengapa Anda tak melamar menjadi Tuhan saya saja... ? hehehe...

Memaafkan adalah hal tersulit, apalagi lukanya sudah tak terobati...
Namun seorang yang kita anggap jahat dan nista pun belum tentu memiliki ukuran yang sama menurut penilaian Tuhan.
Jadi, mengapa harus berkata, "oh... dia pasti disiksa habis-habisan di neraka...".
Apakah Anda sudah mengintip catatan Tuhan, sehingga tahu dan yakin betul apa yang bakal terjadi di akhirat ? Wah... Anda bahkan jauh lebih hebat dari Tuhan, lho...

Biasanya, orang berkata demikian adalah orang yang 'do nothing or unable doing thing' di dunianya untuk memuaskan nafsu sakit hatinya.
Namun bagi mereka yang punya sedikit nyali, akan lebih suka beragitasi menuntut dan menuntut kakek-kakek yang sudah tak berdaya.
Apakah kakek Soeharto harus dipenjara atau disiksa di dalam sel untuk memuaskan hati mereka ? Apakah mereka penganut mashokisme...? Apa yang diharapkan dari fisik Soeharto yang tak lagi berdaya ?

What's next ? How's then ? Apakah ada guna...?
(Ada! Untuk memberi contoh bagi generasi selanjutnya, jika tak ingin diperlakukan seperti Soeharto, jangan melakukan penyelewengan dan penindasan! -- Ah, masyarakat kita sudah terlalu bebal untuk memperbaiki diri hanya dengan melihat contoh...)

Namun saya mendukung jika masalah perdata Soeharto ditindaklanjuti -- SEPANJANG ADA YANG MEMPERTANGGUNGJAWABKAN -- dan membawa manfaat kedepan bagi generasi selanjutnya.
Saya setuju, jika pertanggungjawaban perdata yang diberlakukan, salah satunya adalah dengan mengembalikan yang seharusnya menjadi hak negara dan rakyat, sepanjang hal itu masih bisa dilakukan. Apalagi sebagai negara dunia ketiga, perhitungan materi masih dianggap sebagai hal yang sensitif...
Menurut pandangan saya, penjara bukanlah solusi yang tepat. Tommy sudah familiar dengan jeruji sel. Memenjarakan Amrozi sekian lama takkan membuatnya menjadi berpihak pada pemerintah. Penyiksaan fisik hanyalah manifestasi kepuasan hati kita yang kelam.
Mengapa tak mencari solusi yang lebih bermanfaat ke depan ? Mengapa selalu melihat ke belakang ?
Mengapa masih ribut mempermasalahkan Soeharto ?
Apakah hal itu dianggap lebih asyik dan menggairahkan ketimbang mengantisipasi berjamurnya para koruptor baru yang bahkan lebih tamak dan culas ketimbang Soeharto ?

Soeharto, baik atau buruk, tetaplah menduduki tempat sebagai orang besar.
He's a great man!
Tak hanya di Indonesia, bahkan sejarah dunia pun mungkin sudah menorehkan namanya.
Seperti layaknya Hitler, Stalin, Mao Ze Dong, Naro, atau Julius Caesar...

Someday you'll realize the proud of being part of Soeharto's Era... Whether it's worst or good...

Monday, January 28, 2008

Resensi Novel : NORA -- Putu Wijaya



NORA. Judul sebuah novel terbaru Putu Wijaya yang ditulis besar-besar di halaman sampul. Bacaan khusus dewasa terbitan Kompas, november 2007 ini adalah bagian pertama dari Tretralogi Dangdut. Artinya, akan menyusul 3 novel lagi untuk melengkapi keseluruhan cerita.

Meski berjudul Nora, tokoh utama dalam novel ini adalah Mala, pria bujang usia matang yang menjabat sebagai pemimpin redaksi sebuah media ternama ibu kota. Nora hanyalah tokoh yang dianggap dekorasi unik, segar, dan menggelikan -- yang justru membuat keseluruhan cerita menjadi lebih menarik dan addicted untuk terus dibaca hingga tuntas.

Mala. Seorang pemred sebuah media ternama, tak diragukan lagi kapasitas intelektual dan level prestige nya. Namun ternyata ia terjebak dalam sebuah situasi konyol, hingga akhirnya mengawini Nora -- tetangganya yang norak, tidak terpelajar, dan kampungan. Mulanya Mala menganggap keputusan tersebut adalah sebuah tantangan baru. Namun seiring waktu ia merenda kisah kehidupan perkawinannya dengan Nora, Mala akhirnya menyadari bahwa ia telah tercebur dalam kerumitan dan kekonyolan yang tiada habis.
Di sisi lain, jalinan persahabatannya yang erat dengan Adam dan Dori sang selebritis justru menyeretnya dalam kasus pelik yang bersinggungan dengan masalah politik dan praktek suap. Dan masalah itu semakin runyam ketika Dori menjadi korban pembunuhan sadis, dan Adam berubah menjadi lawan yang mengancam.
Namun ending novel ini masih belum memuaskan pembaca. Putu Wijaya justru meletakkan peak pada bagian terakhir, dengan harapan pembaca tak melewatkan bagian selanjutnya serial Tetralogi Dangdut.

Saat membuka halaman awal, kita akan dibuat bersemangat, kocak, dan 'saru tapi asyik', sejak Putu Wijaya menyuguhkan kisah Nora yang menjadi shock berat setelah melihat 'benda asing' milik Mala yang besar, hitam, dan panjang...
Kemudian cerita bergulir pada proses pernikahan Mala dan Nora yang penuh rekayasa, dan perjalanan kehidupan perkawinan mereka yang konyol. Mala menjadi jengkel dengan ulah keluarga Nora yang terang-terangan memanfaatkan dirinya. Ironisnya, mereka tak pernah menganggap 'eksistensi' Mala sebagai bagian dari keluarga mereka. Tanpa merasa berdosa, mereka justru merayu Nora untuk kawin lagi, dan meminta Mala untuk membiayai perkawinan Nora - istrinya, dengan laki-laki lain.

Nora adalah seorang gadis kampung yang konyol dan sulit untuk ditebak. Bahkan karakter dan tingkah lakunya cenderung absurd, meski menggelikan. Tak mengherankan jika Anda sampai berpikir, 'apa ya ada orang seperti Nora di dunia nyata ?'. Namun itulah kekuatan dunia fiksi, mengalir begitu saja tanpa adanya batasan-batasan yang mengungkung. Nora selalu hadir dalam bagian-bagian yang penuh kejutan. Ia membuat segar dan menghibur. Bayangkan sosok Nora nekat menjadi penumpang gelap dalam sebuah ketera ekonomi, padahal dia sendiri tak mengetahui hendak pergi kemana. Imajinasikan sosok Nora yang begitu inosen dan tanpa beban ketika meminta ijin Mala untuk pergi buat kawin lagi. Nora selalu bergulir dalam kesederhanaan dan kepolosannya, yang pada akhirnya membuat Mala lambat laun menyadari bahwa ia memang telah benar-benar jatuh cinta dan menyayangi Nora.

Boleh jadi novel ini pun cukup menegangkan dengan serentetan kasus 'seram' dan intrik-intrik yang bergejolak. Namun akan menjadi terasa membosankan, karena Putu Wijaya banyak beropini, menuangkan gagasan, pemikiran, dan pandangan idealnya, sehingga terkesan monolog. Seperti layaknya para politisi yang berpidato di depan kadernya, agamawan yang berkhotbah di mimbar peribadatan, pun Putu Wijaya dalam karyanya. Ia banyak menggulirkan pandangannya mengenai peran wanita, peran manusia dalam kemajuan jaman, demokrasi, kekuasaan, identitas dan kritik sosial, dan lain sebagainya. -- Berkat Nora, novel ini terasa lebih segar dan menarik, salah satunya sebagai bacaan yang menghibur.

Secara keseluruhan, novel ini cukup layak menjadi rekomendasi untuk menghabiskan weekend yang tenang! Happy nice reading!

Wednesday, January 9, 2008

Intermezzo -- PASAR HARGA DIRI

"Kalau gue sampai melakukan hal itu, mau ditaruh dimana harga diri gue???"
"Jangan sampai harga diri loe terinjak-injak deh..."
"Dasar manusia tak punya harga diri!!!"

"Emang berapa sich, harga diri loe ? Bisa gak, gue beli..."


Petikan kalimat diatas tampaknya cukup akrab dalam keseharian kita...
Apalagi bagi orang yang katanya mengaku sebagai mahluk sosial...(suka banget sich, mendengung-dengungkan hal semacam itu...)
Semakin sering didengungkan, semakin saya bertanya-tanya dalam hati (hingga akhirnya saya beranikan untuk menuliskan kegelisahan saya dalam blog ini).
Kenapa orang sering ambil pusing dengan 'harga diri' ?
Apa sich, harga diri itu... ?

Padahal, secara harafiah, harga adalah 'kisaran nilai' untuk sesuatu.
Ada yang mengatakan sebagai 'penilaian subjektif seseorang tentang dirinya sebagai positif atau negatif'. Dengan kata lain, ia bermakna bagaimana anda memandang diri anda.

Dulu, saya sangat memperhatikan 'harga diri'. Saya senantiasa sibuk dan bingung, bagaimana menempatkan harga diri dimata orang lain... (aduh... bagaimana caranya, supaya orang gak nganggep gue seperti itu... supaya gak ngatain gue kayak begitu...) dan ternyata... capekkk benarrr, bo'!!!
Hanya demi meningkatkan 'harga diri', ampe musti rela merubah semua 'trade-mark' yang sebenarnya sudah jadi image kita... Rela untuk pada akhirnya tidak menjadi 'diri sendiri'! (Demi supaya bisa hidup dan diterima dengan layak di bumi ini.... --padahal bumi ini sebenarnya milik siapa sehhhhhh!!!!)

Tapi apa yang saya dapat???
Mungkin saya bersikap terlalu berlebihan, sehingga harapan yang saya idamkan tidak terpenuhi. -- high target, high expectation...
Dan jujur saja, semakin lama saya semakin sadar, ternyata yang ada, saya malah menuai kerugian... (maksudnya tentu saja kerugian immateriil...eh, kerugian materiil juga dink...)

Padahal... Tuhan tak pernah meributkan harga diri manusia...(ha... kenapa musti dihargai??? wong diambil gratis aja bisa...)

Apakah itu hanyalah kesombongan manusia yang merasa memiliki segenggam kelebihan, keahlian, kemampuan, dan ke ke yang lain yang membuat mereka menjadi kaumnya hitler -- kan demikian, ya ????
Ah...bagaimana kalau punya sekarung kelebihan ????
Mungkin Tuhan bakal marah karena merasa terancam kedudukannya dengan manusia yang ingin menggeser dan menggantikan posisiNya...
Manusia saat ini cenderung sibuk 'menghargai' tiap-tiap hal dalam kehidupan. Molai dari sembako, rumah, karya, kerja, sampai manusia itu sendiri -- tracking lagi marak bo'....
Semakin berharga tinggi, semakin bangga lah mereka...
Termasuk mental dan akhlak pun.... juga dihargai, kan ? (dasar manusia tak punya harga diri!!!!)
Pada akhirnya, demi mengangkat 'harga diri', manusia semakin gencar mengadakan pemalsuan!!! -PEMALSUAN DIRI-
Jadi rancu deh, mana harga diri yang aseli, mana harga diri yang dibuat-buat...
Contohnya...bersikap palsu di mata orang lain (kan supaya harganya jadi naik...!)-- lupa diri, padahal ada yang Maha Mengetahui...--
Semakin keasyikan dengan harga diri, semakin subyektif lah skala harga diri tersebut. Saya analogikan, seperti halnya perbedaan harga kacang di pasar sayur dan supermarket HERO...
Skala harga diri seorang pejabat DPR sangat berbeda dengan skala harga diri seorang kuli bangunan...
Di kalangan social pejabat, memakai sandal jepit dan kaos oblong dianggap tak punya harga diri...
Di kalangan elit politik, money politic dalam pemilihan ketua partai dianggap 'sah-sah' saja...
Di kalangan pendidik, seorang kepala sekolah yang kerja paruh waktu jadi pemulung di TPA dianggap bagaimana...?
Di kalangan lokalisasi, perempuan yang menggaet suami orang dianggap bagaimana...?

Ah....sibuk sekali mengatai orang lain...men-cap orang lain...me'nyebut' orang lain...
Dan karena tak ingin keduluan, akhirnya... cukup lah, menilai dan menghargai sesuatu dengan hanya dilihat dari permukaannya saja... -- jadi apriori dehhhhh....--
Itulah mengapa MANUSIA DIANGGAP SOKKKK TAHUUUUUUU!!!!!!
Lupa diri...padahal ada yang Maha Mengetahui....

Apakah orang yang tak punya harga diri tak pantas hidup di dunia ini ?
--ho..ho...urusan hidup dan mati kan urusan Tuhan, jadi bukan itu masalahnya...--

Apakah orang yang tak punya harga diri tak pantas di'gauli ?
--resiko dia donk...sebagai mahluk sosial, memang hukumnya wajib memperhatikan harga diri--

Apakah orang yang tak punya harga diri tak pantas dihormati ?
--hanya orang gila yang mau menghormati kecoak di wc yang tertimbun oleh kotoran yang sudah mengerak...--

Lupa diri, padahal ada yang yang Maha Berkuasa atas segalanya....ada yang Maha Mampu Merubah seekor kecoak menjadi segenggam berlian...ada yang Maha Mampu Merubah seekor merak menjadi kutu busuk di kasur kapuk...

Duhh.... repotnya jadi manusia 'berharga diri tinggi'....
Atau...ada yang berminat untuk menjadi manusia yang 'tak punya harga diri' dan anti sosialis ???? hehehehe.....
Seperti saya yang kini tak peduli pada hal remeh temeh seperti itu...
Berkarya adalah hal yang jauh lebih baik ketimbang sibuk mengatur dan menata harga diri supaya kelihatan tinggi di mata orang lain.
Dan yang terpenting, Tuhan Maha Tahu.... dan Maha Pengasih, bung...

Friday, January 4, 2008

Intermezzo -- Cleaning service yang Ganteng....


Pada suatu kali, saya berniat hendak mampir ke mall Kalibata dalam perjalanan pulang ke Bogor. Pengen beli J.Co buat keponakan....
Waktu itu adalah hari libur nasional (entah hari apa, saya lupa....).
Saya tiba di Kalibata Mall pada pukul 11.00 siang. Tapi sungguh tak dinyana, ternyata Mall Kalibata masih tutup.
Meski demikian, banyak sekali orang yang sudah menunggu di depan pintu gerbang. Beberapa gadis ABG duduk di tangga lantai sekedar bercengkrama dan bercanda. Beberapa ibu sibuk mengawasi anak-anaknya yang berlarian di teras kesana kemari. Beberapa lagi hanya diam termenung, menunggu diantara sabar dan tak sabar (salah satunya adalah saya sendiri....)

Saya lihat, beberapa petugas cleaning service tampak sibuk dengan tugasnya. Ada beberapa yang sibuk di dalam mall (saya dapat melihatnya melalui tembok kaca mall) dan ada pula yang kebagian bersih-bersih di bagian depan teras mall.
Karena tak ada kerjaan, saya amati apapun yang melintas di depan saya, termasuk...

Ups... Lha kok ada cleaning service lumayan cakep ya....
Hehehe…. Sebenarnya cakep itu relatif… tapi menurut saya, cleaning service yang ada di depan saya itu tergolong lumayan karena saya pikir, wajah-wajah seperti dia kok tidak pantas ya, jadi cleaning service….

Perawakan dan posturnya tak seberapa tinggi (bahkan mungkin lebih pendek ketimbang saya…--eh, saya kan termasuk tinggi, ya…hehehe). Badannya tak seberapa berisi, malah cenderung kurus. Kulitnya bersih, pakaian yang dikenakan pun tak norak… (apa cleaning service musti norak yaa….) Ia mengenakan celana panjang kargo kolor warna coklat muda dengan atasan T shirt putih. Di saku belakang tergantung beberapa temali atau entah apa, saya tak begitu jelas, mungkin seperti pengait dompet. Yang jelas... dia nggak pake seragam resmi. Sandal yang dikenakan pun sandal cowok warna hitam, kelihatannya dari bahan kulit.
Saya menyimpulkan kalau dia adalah cleaning service karena sedari tadi saya melihatnya sibuk mengepel lantai, mengelap kaca, dan membawa timba...
Sewaktu dia mengepel lantai di dekat saya, iseng saya tanya, ”mas, mall bukanya jam berapa, ya?”
Dia sempat menjawab sekilas. Namun entah menjawab apa, kuping saya kurang jelas menangkap suaranya yang lirih. (atau memang saya yang budheg ya...kebiasaan dengerin musik yang kacau balau, siiiiichhh... hehehe...)
Semakin saya mengamatinya, semakin banyak dugaan dan pemikiran yang berloncatan di benak saya... Apa ya mungkin dia benar-benar seorang cleaning service...??? Ah...mungkin dia adalah seorang kaya yang sedang menyamar (bak Satriya dalam sinetron Indonesia ’Cahaya’), atau mahasiswa yang sedang magang... atau pekerja yang sedang mengambil part time tambahan... (????)

Hanya sekedar melihat fisik dan penampilan lahiriah, segala penilaian tentang sosok seseorang mudah terbentuk... Fisik yang bagus, pasti orangnya juga bagus... Fisik yang buruk, pasti orangnya juga buruk....
Semacam budaya negeri kita atau karakter manusia se-jagat raya...?
Tak bisa disangkal, penampilan seringkali menjadi cerminan dari inner karakter seseorang. (Bahkan paranormal pun bisa meramal watak seseorang dilihat dari besarnya hidung atau tipisnya bibir...).
“Variation in the physical appearance of humans is believed by anthropologists an important factor in the development of personality ands social relation in particular physical attractiveness” – wikipedia

Para salesgirl atau SPG dengan pakaian seronok dan make up mencolok yang berdiri di sebelah tangga eskalator mall yang tergolong elit di kota besar acapkali memilih-milih orang yang dianggap sebagai prospeknya. Jika penampilannya necis dan glamor, berbagai penawaran dan sikap manis penuh kepalsuan menghujani bertubi-tubi. Namun apa yang terjadi jika yang lewat hanya seseorang yang kelihatan ’kere’ dengan sandal usang yang nyaris jebol, kemeja lusuh yang warnanya sudah pudar, dengan muka mengkilap berkeringat...????
Boro-boro di’senyumin’... mereka malah bersikap seolah tak pernah melihat.... (eh, padahal bisa jadi tas ransel yang keberatan itu berisi segepok duit yang bikin ngiler lho....)
Perlukah kita menghujat sikap para SPG tersebut...?
Tapi, sampaikah kita pada pemikiran; mereka pun dikejar target, sehingga harus pintar memilih-milih orang. Bukannya naif, tapi kenyataan kerap kali membuktikan, penampilan yang ’wah’, berisi duit dan kekayaan yang ’wah’ pula... – kalau semua disapa ramah, itu namanya buang-buang energi... garing tar giginya, kebanyakan senyum...—

Seorang pemuda dengan gaya rambut mohawk, tato seluruh badan, piercing di telinga hidung, alis, hingga lidah, jaket belel, celana yang robek disana sini -- acapkali dianggap sebagai orang 'nggak bener'... pemuda urakan... sampah masyarakat...
Namun adakah yang tahu bahwa seorang ustad tega memperkosa santrinya... seorang lulusan sekolah agama justru jauh dari perbuatan religius meski tiap hari beragitasi ngotot tentang pentingnya kesadaran masyarakat untuk beriman... seorang yang pintar hingga lulus S3 mengenakan setelan Hugo Boss dan dasi satin dari Armani melakukan korupsi disana sini...??? Seorang wanita yang tampil mempesona dengan gaun mentereng koleksi Louis Vuitton dengan menjinjing tas Hermes dan perhiasan mentereng menggantung dimana-mana, hingga ia terlihat kasat mata sebagai sosok yang teramat terhormat, ternyata hanyalah seorang wanita simpanan pejabat yang 'konon mewakili rakyat'... Atau... gadis alim berjilbab dengan baju gamisnya yang kedodoran, membawa Al Quran kemana-mana... ternyata serumah dengan pacar barunya, dan baru saja melakukan aborsi dengan alasan menghindar dari tanggung jawab... What a mess!!!!

Hidup serasa terdengar lebih keras kah ???
Yang teratas lah yang mendapat prioritas... Yang mentereng yang dihormati... Yang terhormat yang disegani....
Yang kere.... ah, anggap saja sekedar numpang....
Numpang hidup maksudnya....

Manusia sudah terlanjur mengklasifikasikan kedudukan dan kehormatan manusia berdasarkan penampakan (bukan penampakan hantu jeruk purut lho...)
Karena hidup sudah ditakdirkan bergelimang kompitisi... persaingan disana sini... Tak lagi peduli aturan yang sebenarnya seperti apa... Semakin lama yang dipercaya hanyalah, ”siapa yang sampai diatas, itulah yang dilihat!!!”
Akibatnya, manusia menjadi semakin tak peduli dan membabi buta, melakukan segala cara untuk sekedar dapat ’dilihat’.
Tentunya 'dilihat' oleh manusia yang lainnya, dong..... (karena yang nampak di depan hidung mereka adalah wujud manusia-manusia lainnya – yang ternyata juga memiliki sifat dan sikap yang sama dengan dirinya; bersaing, menghujat, mendamba, atau membicarakan...)
Wujud yang lain..... Siapa peduli ??? – tak kelihatan kok....

Aturan Yang Membuat Hidup.... Pandangan Tuhan itu sendiri..... (apa ya iya, Tuhan juga mengklasifikasikan manusia berdasarkan appearance atau penampilan.... Padahal ada yang bilang, takdir ada di tangan Tuhan... rejeki dan kesialan sudah digariskan.... Jika manusia hidup miskin atau berlimpah harta, siapa yang membuatnya...? Jika memang demikian, betapa sepele nya urusan Tuhan...)dianggap urusan belakangan... waktu untuk di akherat masih lama...tak perlu dibahas... Lagipula...terlalu abstrak untuk dibicarakan...apalagi diaplikasikan...

Padahal Tuhan tidak lah demikian.... (Benarkah demikian, O Tuhan ???)
Manusia lah yang bikin hidup jadi sedemikian keras....
Atau alam raya yang bikin hidup semakin panas...??? Tanyakan resepnya pada Al Gore donk, hehehehe...

Setelah selama setengah jam (dan terutama karena merasa tak sabar lagi), akhirnya saya berniat untuk melanjutkan perjalanan menuju Bogor.... visiting my niece n nephew...without bringing anything...

Thursday, December 27, 2007

BEST TIESTO


Lahir di Breda,sebuah kota kecil yang terletak di negeri kincir angin Belanda, Tiesto berhasil menapaki ketenarannya di seluruh penjuru dunia sebagai DJ. Bermacam-macam penghargaan disabetnya. Berawal dari hobi dan kesukaan, akhirnya seorang Tiesto mampu menciptakan musik-musik apik yang digilai para pecinta musik trance di seluruh dunia. ”Waktu saya muda dulu, saya senang mendengarkan acara radio ’the Soul Show’ yang menampilkan Ben Liebrand, seseorang yang mampu me-remix dan memotong track-track musik yang berbeda-beda. Dan saat itu pula, kemudian saya berpikir – Saya juga pasti bisa melakukannya!”
Usaha awalnya bermula dengan mengadakan ’mobile show’ keliling daerah, kemudian mengisi acara-acara ’student party’, hingga akhirnya menjadi DJ tamu di sebuah club selama tiga hari berturut-turut. Saat itu, Tiesto muda banyak belajar untuk semakin menyempurnakan teknik mixing nya. Saking cintanya dengan dunia ’mixing’, Tiesto sempat berandai-andai ”Seandainya saat ini saya tidak menjadi DJ, mungkin saya akan menjadi seorang chef. Saya senang memasak. Dan yang terpenting... dalam memasak itu juga diperlukan ‘mixing element’. Itulah yang saya suka”.


Tahun 1995, Tiesto mulai memberanikan diri untuk memproduksi album. ”Saya membawa beberapa sampel, beberapa program komputer, dan mulai bekerja”. Berkat tangannya yang berbakat, beberapa single nya seperti Traffic, meraih posisi teratas di tangga lagu. Hit remix Deleriumnya, ‘ Silence’ featuring Sarah McLachlan adalah track house pertama yang diputar di radio di Amerika Utara (bahkan menjadi anthem dancefloor club-club internasional dan menduduki top 10 UK chart selama delapan minggu berturut-turut). Yang lebih membanggakan, Tiesto tampil secara life di depan milyaran orang pada saat upacara pembukaan Olimpiade di Athena dengan tajuk ‘Parade of The Athletes’. Sejak saat itu, beberapa penghargaan prestisius menghampirinya dan menetapkannya sebagai best DJ around the world.

Berjaya dengan aliran trance, tak berarti Tiesto tampil monoton hingga makin lama makin membosankan. Seiring dengan pengalaman dan eksplorasinya yang telah mengunjungi berbagai daerah, kini ia mencoba untuk memasukkan pengaruh luar dan aliran lain dalam musiknya – trance, house techno -, aliran terbaik di lantai dansa club seluruh dunia.


Pada awal desember 2007 lalu, album teranyar Tiesto ’Elements of life’ dinominasikan sebagai peraih award prestisius dalam industri rekaman musik, dan sebuah Grammy pada kategori Best Electronic/Dance. ‘Elements of Life’ dirilis oleh Black Hole recording company, melanjutkan kesuksesannya terdahulu yang telah menjual lebih dari 72000 album di Amerika dan meraih status golden dan platinum di beberapa negara lain di dunia.

Penghargaan yang pernah diperoleh :
Tahun 2005
* 3 FM Award Best Dance Artist
* Release Dance Award Best Trance/Progressive artist
* Release Dance Award Best International DJ
* TMF Belgium Best International DJ
* Dance Music Award Germany Best Trance Artist
* WMC Awards Miami Best Producer
* WMC Awards Miami Best Hi-NRG / Euro track
* WMC Awards Miami The Ortofon Best European DJ 2004
* WMC Awards Miami Best Producer 2004
* TMF Award Holland Best Dance National
* TMF Award Holland Radio 538 single of the year
* TMF Award Holland Lifetime Achievement
* Edison Music Award Best dance album ' Just Be
Tahun 2004
* ID&T Dutch DJ Award Best Dutch DJ by audience
* Buma/Stemra Sound of Silence Award
* TMF Award Belgium Best International DJ
* World Music Award World's best selling Dutch artist
* Ibiza DJ Award Best International DJ Trance
* TMF Award Holland Best National DJ
* TMF Award Holland Best Dance Act National
* DJ Mag Top 100 Number 1 Position
* WMC Awards Miami Best International DJ
Tahun 2003
* World Dancestar Award U.S.A. Best International DJ
* ID&T Dutch DJ Award Best Dutch DJ by professional jury
* ID&T Dutch DJ Award Best Dutch DJ by audience
* Radio 538 Dance Award Radio 538 Dutch Audience Edison
* TMF Award Holland Best Dance Act National
* TMF Award Holland Best National DJ
* TMF Award Belgium Best Dance International
* MTV Europe Music Award Best Dutch Act
* BG Magazine Award Best Club/Trance/Hardhouse DJ
* DJ Mag Top 100 Number 1 Position
* Mixmag Award Best Resident Ibiza

Tuesday, December 11, 2007

The Blossoming of Maximo Oliveros -- Jiffest recommended

Realita kaum pinggiran
Yang lemah selalu kalah
Benar atau salah adakah artinya
Ketika kejahatan ternyata bersemayam di tiap sisi kehidupan


The Blossoming of Maximo Oliveros, sebuah film asal filipina keluaran tahun 2005 yang amat menarik ini disutradarai oleh Auraeus Solito. Film apik ini sesungguhnya mengusung gambaran hidup kaum pinggiran yang berjuang di tengah kesulitan yang selalu menghimpit. Namun film ini menjadi terasa lebih segar dengan balutan kisah Maxi (diperankan oleh Nathan Lopez), seorang bocah laki-laki 12 tahun yang mengidentifikasikan dirinya sebagai perempuan, dan memiliki keluarga yang ternyata berprofesi sebagai maling.

Walau begitu, tampaknya potret kehidupan Maxi dan keluarganya dipandang sudah lumrah bagi masyarakat kalangan sekitarnya, yang ternyata juga hidup dalam kekurangan, dengan rumah-rumah jorok yang saling berhimpitan dan gang-gang sempit yang selalu ramai dengan anak ingusan berbaju kumal. Keluarga Maxi yang terdiri dari sang ayah – dengan profesi samarannya sebagai penjual hape--, kakak pertamanya Boy, kakak keduanya Bog, dan Maxi sendiri (sang ibu telah almarhumah…), tampak hidup bahagia dan bisa memahami keadaan dengan legowo. Walau hidup di tengah kondisi yang hiruk pikuk, toh mereka ternyata masih menikmati keindahan, kebersamaan, dan esensi dari sebuah keluarga.

Sebagai anak bungsu, Maxi paling menaruh perhatian dan sibuk dengan aktivitas domestik (lebih dikarenakan ketidaknormalan identitasnya- yang perempuan, tapi laki-laki…); memasak, membersihkan rumah, ataupun mencuci pakaian saudara-saudaranya. Maxi melakukannya dengan senang hati, tanpa merasa keberatan dan penuh rasa cinta.
Namun rasa cinta terhadap keluarganya itu kemudian menjadi terbagi seiring dengan kehadiran Victor, sosok polisi ganteng yang pernah menyelamatkannya dari gangguan para berandal jalanan. Sejenak, Maxi merasakan dan menikmati romantisme hari-harinya bersama Victor. Namun ternyata Victor malah memanfaatkan keadaan tersebut untuk mengorek keterangan dari Maxi mengenai kasus pembunuhan yang sedang ia tangani. Victor menuduh salah satu anggota keluarga Maxi sebagai otak pembunuhan tersebut.
Maxi dihadapkan pada pilihan yang dilematis. Di satu sisi, keluarganya mulai tak menyukai kedekatan Maxi dengan polisi yang semakin mengubek-ubek kehidupan mereka. Namun disisi lain, Maxi pun tak ingin menjebloskan keluarganya di sel tahanan.
Seiring dengan alur waktu berjalan, Maxi seolah telah mendapat jawaban, apa yang sebaiknya ia lakukan. Maxi yang belia dituntut untuk memahami cerita manusia yang ternyata memiliki karakter yang tumpang tindih, memaknai tiap sisi kehidupan yang ternyata tak melulu sepekat hitam atau seterang putih. Dengan latar belakang kehidupan yang demikian, Maxi justru lebih memahami situasi secara dewasa.

Film drama berdurasi 100 menit ini terasa tak begitu membosankan karena alur yang mudah diikuti dan dipahami. Meski banyak sekali potret yang teramat menyentuh, namun skenario yang dibuat terasa lebih realistis (tanpa ada kesan hiperbola). Film ini menggambarkan dengan apik bagaimana dalam keluarga maling yang notabene dianggap sebagai laknat masyarakat ternyata masih ada kehangatan sebuah keluarga; Ayah yang memperhatikan anak-anaknya, kakak yang selalu melindungi adiknya --Betapa mereka tak pernah melewatkan acara makan bersama di meja makan yang sederhana! Betapa Bog adalah seorang kakak yang baik dan peduli pada perasaan adiknya yang sedang patah hati karena cinta! Hingga betapa Maxi teramat mencintai keluarganya dengan berusaha melindungi kakaknya Boy yang tengah terlibat kasus pembunuhan! Whew...

Manusia selalu tak pernah puas dengan apapun yang didapat dan diraihnya. Seperti layaknya para pejabat kaya korup yang memiliki kerakusan duniawi dan ketidakpuasan hidup. Argumentasi yang dibuat oleh ayah Maxi seolah merupakan excuse untuk menerima dengan mafhum dasar mereka memilih jalan singkat – pencuri. “Bekerja sebagai buruh pabrik tak akan pernah bisa meningkatkan taraf hidup keluarga. Yang ada adalah semakin kekurangan dan keterpurukan. Kondisi kesehatan semakin memburuk, tapi tak mampu pergi ke rumah sakit dan akhirnya mati sia-sia. Ayah tak ingin kehilangan lagi satu pun dari anggota keluarga kita”. Ungkap ayah Maxi pada anak-anaknya.
Dan ironis sekali, justru ternyata ayah Maxi lah yang terpaksa pergi meninggalkan keluarga – mati ditembak atasan Victor.

Sedang Victor, sosok polisi yang semula dianggap lebih dewasa dan lebih bijak – ketika mencoba menasehati Maxi untuk selalu melakukan apapun di jalan halal dan atas nama kebajikan – ternyata hanyalah menjadi sebuah paradoks ketika ia dibuat tak berkutik melihat atasannya sendiri membunuh ayah Maxi hanya karena didasari oleh dendam pribadi masa lalu. Bahkan yang lebih ironis, peristiwa itu seolah ditutup begitu saja – mungkin karena hal itu dilakukan oleh atasan kepolisian...

Kala kebenaran dan keadilan diteriakkan dengan sedemikian lantangnya, namun sang pembawa kebenaran justru melakukan kejahatan dengan menunggangi bendera kepolisian.